Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2012

Semu

Gambar
Semu Ia bertutur dengan seribu ucapnya Senyum berdebar berharap – harap Harap kugores kepiluannya Biar pulang membawa cita Kuracuni lembayung hidup Tanpa ku lirik panutan hati Jeritan hati menggelegar jiwa Mencekam kalbu belenggu pribahasa Mungkin sudah takdir berdayung Kusendiri dalam bayang semu Tinggalku sebagai seorang perindu Berbaik hati berbagi kasih Dalam cerita semu
Entah apa yang membuat perasaanku sekarang teraduk - aduk.  Saya sendiri belum bisa menterjemahkan perasaan itu.    Terlebih ketika sebuah kesalahpahaman itu berbuntut panjang.  Itu rasanya bak tenggelam dalam arus sungai yang membawaku jatuh.  Mungkin keselahanku ini besar baginya, padahal, jujur, tak pernah ada secuil pun rasaku untuk membohonginya.  Kuserahkan semuanya pada Tuhan.  Dialah, yang mampu melihat akan kebenaran itu. Hanya waktu yang menemaniku saat ini....

TRAGEDI DALAM BUS

Penulis: Wawan Setiawan Bunyi Klakson A vanza itu membangunkan kedua bola mataku yang hampir redup. Perjalananku ke ibu kota dari jalur Solo–Jakarta, terserang macet. Entah apa yang terjadi, bisa jadi karena kecelakaan atau demo massa. Itu pula yang membuat kendaraan saling membunyikan klakson, tak lain agar mereka bisa melejit dan lari dari kemacetan itu. Itulah alasan bus yang kutumpangi ini bergerak sangat lambat, tersendat–sendat. Supir bus sudah terkantuk–kantuk dan terus menenggak kopi dalam botolnya. Beberapa penumpang mulai kepanasan dan mengipasi wajah mereka dengan telapak tangan. Sebaliknya, bapak berkumis lebat yang duduk di sebelahku malah asyik merajut pulau tak berpenghuni, alias tidur. Mulutnya menganga lebar menyerupai beruang madu. Membuatku tak berkutik karena posisi dudukku di dekat jendela. Lengkaplah sudah ketidaknyamanan ini. Tidak tahu berapa jam lagi aku bisa ke kampung halaman. Tak sabar untuk menyalam...