JODOH UNTUK GOFUR
Ruangan trapesium yang penuh deretan kursi berbaris ini tampak dingin seperti kutub. Mungkin karena AC yang diatur tidak stabil atau perasaanku yang membeku. Dari puluhan kursi itu aku duduk paling depan bersebelahan dengan Mirna. Aku tak banyak bicara kecuali pria beratribut seperti toga itu bertanya. Dibelakangku ada beberapa orang menunggu dengan ekspresi yang sama denganku, salah satunya ibu. Dan mungkin beberapa pasang kamera akan menyorotku saat ini kalau aku seorang publik figur. Yang jelas, di ruangan sidang ini, kami semua menunggu ketukan dari hakim. Ketukan yang akan menentukan jalan hidup aku dan Mirna. Tibalah momen yang kami tunggu. Pak hakim membunyikan palunya 3x seirama. Suara yang menurutku tidak asing namun membuat jantungku berdegup kencang. Karena pukulan palu itu kini aku secara resmi menyandang duda. Duda yang usia pernikahannya hanya 7 hari. Kulihat Mirna yang tadi duduk disebelahku lari kepelukan ibunya dibelakang. Aku tertunduk lemas dan juga malu. Bena...