Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2016

JODOH UNTUK GOFUR

Ruangan trapesium yang penuh deretan kursi berbaris ini tampak dingin seperti kutub. Mungkin karena AC yang diatur tidak stabil atau perasaanku yang membeku. Dari puluhan kursi itu aku duduk paling depan bersebelahan dengan Mirna. Aku tak banyak bicara kecuali pria beratribut seperti toga itu bertanya. Dibelakangku ada beberapa orang menunggu dengan ekspresi yang sama denganku, salah satunya ibu. Dan mungkin beberapa pasang kamera akan menyorotku saat ini kalau aku seorang publik figur. Yang jelas, di ruangan sidang ini, kami semua menunggu ketukan dari hakim. Ketukan yang akan menentukan jalan hidup aku dan Mirna. Tibalah momen yang kami tunggu. Pak hakim membunyikan palunya 3x seirama. Suara yang menurutku tidak asing namun membuat jantungku berdegup kencang. Karena pukulan palu itu kini aku secara resmi menyandang duda. Duda yang usia pernikahannya hanya 7 hari. Kulihat Mirna yang tadi duduk disebelahku lari kepelukan ibunya dibelakang. Aku tertunduk lemas dan juga malu. Bena...

SEKELUMIT KISAH SURYA

Andaikan kita boleh berargumen kepada Tuhan sebelum kita lahir, mungkin kita akan menyeleksi orang seperti apa yang pantas menjadi orang tua kita. Tentulah bukan orang tua miskin yang tidak menjamin masa depan. Bukan pemulung, pengemis, ataupun pedagang kaki lima. Siapa yang mau? Tidak ada orang di dunia yang sudi dilahirkan miskin. Semua diukur dengan uang. Semuanya! Titik! Cuma orang sinting yang berani bilang “Aku siap miskin!”. Atau bisa jadi ini perkara keberuntungan? Dilahirkan miskin dan tidak miskin adalah dua mata koin yang Tuhan lempar untuk kita. Kemiskinan bukan hal aneh bagiku. Aku sudah hidup miskin sejak orok. Orang tuaku miskin, kakek nenekku miskin, mungkin buyutku juga. Kenyataan ini membuat aku sentimentil dengan orang kaya. Aku benci mereka yang suka menceramahi kami untuk sabar. Sabar? Kalau kami tidak sabar mungkin kami sudah mati terjun ke sungai. Mereka dengan mudahnya berkata seolah mereka lebih kuat dari kami, padahal itu hanya skenario mereka karena mer...

CERMIN

Ini sudah rokok ketiga yang aku hisap. Kumainkan asapnya membentuk bulatan kecil untuk memecah malam ini. Peluh seharian bekerja rasanya terbayar dengan menghisapnya. Bukan karena aku bodoh dan tidak tahu bahaya merokok. Tapi.. ini karena aku gagal menemukan hal lain yang mampu mengembalikan keceriaanku. Yah, tidak ada lagi. Bahkan istriku sendiri. Dia sudah berubah. Tidak lagi seperti dulu. Ah, perasaan ini kembali beradu padanya. Konflik batin ini kembali mencuat dan hanya menjadi emosi yang terpendam. Mataku memandang nanar langit malam. Hitam dan hening. Ingatanku pun kembali merekam masa lalu. Masa dimana hari – hariku penuh gairah dan kebahagiaan. Tuhan…  izinkan aku mengulang satu episode saja masa lalu itu. Klik! Bunyi pesan dari whatsapp mengusik lamunanku. Itu dari teman kantorku, Rayan. Seperti  biasa, dia selalu mengingatkanku agar tidak datang terlambat meeting besok. Namun yang menarik perhatianku justru bukan isi pesan itu. Bola mataku lari ke foto profile...