JODOH UNTUK GOFUR


Ruangan trapesium yang penuh deretan kursi berbaris ini tampak dingin seperti kutub. Mungkin karena AC yang diatur tidak stabil atau perasaanku yang membeku. Dari puluhan kursi itu aku duduk paling depan bersebelahan dengan Mirna. Aku tak banyak bicara kecuali pria beratribut seperti toga itu bertanya. Dibelakangku ada beberapa orang menunggu dengan ekspresi yang sama denganku, salah satunya ibu. Dan mungkin beberapa pasang kamera akan menyorotku saat ini kalau aku seorang publik figur. Yang jelas, di ruangan sidang ini, kami semua menunggu ketukan dari hakim. Ketukan yang akan menentukan jalan hidup aku dan Mirna.

Tibalah momen yang kami tunggu. Pak hakim membunyikan palunya 3x seirama. Suara yang menurutku tidak asing namun membuat jantungku berdegup kencang. Karena pukulan palu itu kini aku secara resmi menyandang duda. Duda yang usia pernikahannya hanya 7 hari. Kulihat Mirna yang tadi duduk disebelahku lari kepelukan ibunya dibelakang. Aku tertunduk lemas dan juga malu. Benar – benar malu hingga tak ada keberanian untuk mengangkat kepalaku. Ingin rasanya aku menyudahi kehidupan yang kujalani ini. Namun, seorang wanita yang usianya dua kali dariku selalu menjadi alasan aku tetap hidup.

Ibu memelukku dan berbisik, “Kamu harus tegar, Gofur!” Aku menyeka air matanya yang menurutku sungguh tidak pantas untuk menangisi pria hina sepertiku. Ibu kemudian menyeret lenganku dan berjalan kearah Mirna, mantan istriku yang baru saja bercerai denganku. Langkahku terasa berat seperti ada bongkahan batu yang terikat pada kedua kakiku.

“Dek Mirna, kami pamit pulang. Terimakasih sudah menjaga Gofur selama 7 hari ini. Jangan sungkan untuk mengunjungi kami.” Ujar Ibu pada Mirna dan keluarganya. Aku tahu ibu hanya berbasa – basi. Mirna hanya membalasanya dengan senyum kecut. Kupikir dia masih membenciku.
“Mirna, terima kasih untuk semuanya.” Lirihku setelah ibu. Kulihat dia menarik nafasnya dalam – dalam. Mungkin berat baginya bahkan hanya untuk merespon perkataanku.

“Semoga Mas bahagia.” Kata Mirna akhirnya. Menurutku itu sebuah sindiran. Apa maksud kata bahagia setelah dia menggugat cerai? Aku tahu perceraian ini salahku. Aku biang keladinya. Tapi aku pun bisa saja menyalahkan Tuhan yang telah menciptakan aku menjadi pria tidak normal seperti ini. Ah, rasanya aku ingin berteriak sekencang – kencangnya. Kutarik tangan keriput ibu dan kemudian segera pergi ke pintu keluar.
***

Rumah tampak lengang sore ini. Ibu pergi ziarah ke makam bapak sejam lalu sedangkan pikiranku masih berkecamuk. Aku meraih kopi yang sudah dingin dan meneguknya. Berharap setiap tegukannya mampu menghiptonisku beberapa menit saja. Tapi itu percuma, beberapa foto pernikahan aku dan Mirna masih terpasang di dinding ruang tamu seolah memata – matai gerak – gerikku.

Mirna perempuan baik dan anggun. Wajar dulu almarhum bapak selalu berharap dia menjadi menantunya. Terlebih ibu yang sudah tak sabar menggendong cucu. Kepalang usiaku yang sudah 35 dan kemauan orang tua yang sudah tidak bisa ditahan, maka aku korbankan perasaanku demi mereka berdua. Namun sungguh disayangkan, bapak belum bisa menyaksikan putra semata wayangnya duduk dipelaminan karena Allah memanggilnya terlebih dahulu dua pekan setelah pertunanganku. Tapi kupikir tak ada baiknya juga bapak menyaksikan perceraianku ini. Terlebih dengan alasan yang sangat memalukan. Perselingkuhan! Yah, perselingkuhan yang sangat tidak umum. Mirna menggugat aku untuk menceraikan dia karena aku menjalin hubungan terlarang dengan Fajar.

Fajar adalah orang yang sudah aku kubur dalam ingatanku dan kemudian kembali. Banyak orang mengatakan kalau waktu menjelang pernikahan adalah momen tersulit. Akan banyak godaan datang dari segala penjuru yang mencoba meruntuhkan biduk pernikahan yang akan dibangun. Dan godaan terberatku adalah dia, Fajar. Pria yang berhasil menyusun potongan puzzle dalam diriku.

Aku seorang pria normal. Memiliku kedua pasang mata, hidung, mulut, dan anggota tubuh lain yang tak kurang apapun. Namun ada satu hal yang sulit kujelaskan terkait orientasi seksualku. Aku tidak tertarik dengan perempuan, namun sebaliknya hatiku berdesir melihat laki – laki. Jangan tanya kenapa, karena aku pun tidak bisa menjelaskan dan aku pun tidak mau hidup seperti ini. Aku tidak mau hidup dalam kepura – puraan. Aku tidak mau selamanya terjebak dalam raga yang salah seperti ini. Kalau sudah seperti ini kemana aku harus melangkah? Andaikan saja Tuhan bisa melahirkanku kembali dalam raga perempuan mungkin hidup tak akan sesulit ini. Ini sungguh tidak adil!

Aku memang tidak bisa menyalahkan Mirna secara sepihak. Berkali – kali dia meyebut pernikahan kami palsu. Palsu untuk menutupi identitasku sebagai penyuka laki – laki. Yah, memang salah satu tujuan aku menikahinya adalah berharap aku bisa menjadi normal tapi perkiraanku salah. Fajar, teman kuliahku dulu, hadir ditengah – tengah pernikahan kami. Dia mengejutkanku dengan mengatakan kalau dia mencintaiku. Aku pun terlena dan terbawa arus setan lalu menjalin hubungan dengannya sampai Mirna tahu dan memergoki kami berdua. Ah, kepalaku hampir pecah setiap kali mengingatnya.

Kreok! Tiba – tiba aku mendengar suara pintu depan dibuka dengan hati – hati dan kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat. Kupikir itu ibu ternyata Fajar.
“Mau apa kau kesini!” Bentakku.
“Aku sudah tahu semuanya.” Bilang Fajar kemudian menarik kursi dan duduk.
“Sudah tahu apa, heh! Kamu sudah membuat hidupku gila!” Bentakku.
“Tidakah ini sinyal buat kita? Buat hubungan kita? Tidakkah kamu bahagia?”
“Kebahagiaan apa yang kamu maksud? Hentikan Fajar! Aku tidak mau berdebat lagi soal ini. Kita akhiri semuanya. Sekarang kamu pergi dan jangan pernah datang lagi ke kehidupanku.”
“Maksud kamu? Bukankah kita saling mencintai selama ini?”
“Jangan menceramahiku lagi dengan cinta karena hal itu yang sudah membuat hidupku berantakan. Aku ingin memulai semuanya dari awal. Sekarang lekas kamu pergi karena aku tidak ingin ibu melihat kamu dan menjadi fitnah.”
Dari raut wajahnya Fajar sangat kecewa. Lantas dia bangkit dari kursi dan pergi tanpa berkata apa – apa lagi.
***

 “Kamu tidak kerja, Fur? Sudah 3 hari ini kamu hanya mengurung diri di kamar.” Ujar ibu seraya membuka gorden kamar dan membuatku memicingkan mata. Perlahan aku terbangun dan duduk di tepi kasur.
“Tidakkah ibu marah dan menghukumku?” Tanyaku pelan. Ibu menoleh lalu menyusulku duduk.
“Tidak ada alasan untuk menghukumu, Nak! Kamu tetap Gofur anak laki – laki ibu yang gagah.” Tukas ibu. Aku menatap wajah ibu yang sudah berkantung. Lalu kupeluk dan kubelai punggungnya. Dialah satu – satunya alasan kenapa aku harus kuat. Setidaknya aku harus berjuang untuk melawan ketimpangan pada diriku demi ibu.
“Kamu tetap anak laki – laki ibu.” Ujar ibu lagi dan aku paham maksud ucapannya. Aku melepas pelukan ibu perlahan. Aku menunggu kalimat yang akan diucapkannya lagi.
“Kamu tak usah takut. Mirna perempuan yang amanah. Dia tidak akan menyebarkan aib diantara kalian. Sekarang lekas mandi dan jalani kehidupanmu seperti biasa.”
Aku menurut lalu beranjak ke kamar mandi dan bergegas ke toko.
***

Hampir seminggu aku membiarkan toko fotokopiku ini menjadi sarang laba – laba. Beberapa pegawaiku masih libur dan artinya aku harus membersihan semuanya sendiri.

“Mas sudah buka ya?” Kata seorang perempuan berkerudung panjang yang tiba – tiba sudah berdiri di depan rolling door toko. Aku sedikit terkejut dibuatnya.
“Sudah tapi nanti dulu ya mbk, aku mau bersihin dan panasin mesinnya dulu.” Kataku. Lalu perempuan itu duduk di kursi yang memang aku sediakan di depan etalase kaca.
“Sini biar aku bantuin ya Mas.”
Aku tercenung karena tidak biasanya ada orang yang berbesar hati begitu. “Tidak usah mbk. Aku bisa sendiri kok.”
Perempuan itu kekeh. Dia malah mengambil sapu yang tergantung di dinding dan mulai menyapu. Mungkin perempuan itu sedang terburu – buru dan niatnya membantuku agar dia segera dilayani, pikirku.
“Memang toko sebesar ini tidak ada pegawainya, Mas?” Tanya perempuan itu sambil menyapu.
“Aku punya 6 pegawai tapi sedang aku liburkan.” Kataku.
“Loh kok diliburkan tapi Mas buka toko?”
Aku sejenak terdiam. Aku tidak mungkin bicara panjang lebar terhadap perempuan asing seperti dia bahwa tokonya aku liburkan karena aku menikah lalu bilang aku menduda sekarang karena aku selingkuh dengan seorang laki – laki. Sungguh tidak!
“Kok bengong Mas?” Pekik perempuan itu.
“Ada urusan keluarga mbk. Oh, sepertinya sudah bersih tuh. Makasih ya atas bantuannya.” Kataku mengalihkan pertanyaannya. Perempuan itu lalu menurut dan menggantung sapunya di paku kembali. Aku bergegas melayani dia kemudian.
“Mau fotokopi apa mbk?”
“KTP. 5 lembar ya mas. Aku perlu untuk membuat surat keringanan biaya Rumah Sakit.”
Aku hanya ber-oh karena tidak bertanya panjang lebar lalu dengan gesit mengkopi KTP-nya.
“Semuanya berapa Mas?” Tanyanya.
“Tidak usah. Mbk kan sudah membantu tadi.”
“Loh aku kan ikhlas Mas bantuin tadi. Aku gak minta digratisin biar ganjarannya dari Allah saja.”
“Ya sudah. Semuanya seribu.”
Perempuan itu lalu merogoh kantong di rok panjangnya dan meletakkan uang receh 1.000 diatas etalase.
“Terimakasih.” Kata wanita itu kemudian pergi buru – buru. Dan selang 10 menit kemudian aku baru sadar bahwa dia melupakan KTP aslinya.
***

Sudah 3 hari ini perempuan itu belum juga mengambil KTP-nya. Ada rasa penasaran yang menghantui diriku. Akhirnya aku tanyakan ini pada ibu.
“Ibu kenal Liana?”
Ibu yang tengah menjahit mukenahnya mendongak ke arahku, “Liana? Ibu baru dengar, memang kenapa?”
“Dia meninggalkan KTP nya 3 hari lalu dan juga belum mengambilnya.” Kataku.
“Bukankah disitu ada alamat tertera?”
“Iya memang dan aku tahu tempatnya.”
“Kamu antarkan saja mungkin dia sedang kebingungan mencarinya.”
“Haruskah aku melakukan itu?” Tanyaku dalam hati.
***

Tidak ada kepentingan bagiku untuk mengantarkan KTP ini. Hanya saja aku ingin sedikit menunjukkan kebaikan kepada perempuan yang juga telah menunjukan kebaikannya membantuku membersihkan toko beberapa hari lalu.

Pagi tadi aku sudah menyiapkan kuda besiku. Alamatnya tidak begitu jauh. Mungkin hanya 20 menit dari rumahku. Beberapa warga yang kutemui masih bersikap wajar. Tidak ada yang berprilaku aneh atau mencibirku. Entahlah, mungkin mereka baik di depan dan menjelek – jelekanku di belakang. Yang jelas aku tidak peduli.

20 menit kemudian aku sampai di rumahnya. Rumah yang ukurannya setengah dari rumahku dengan dinding penuh retakan. Setelah memarkirkan motorku lantas aku bergegas mengetuk pintu.
“Assalamualaikum.”
Tak lama, seorang anak kecil yang kira – kira usianya 4 tahun membukakan pintu. “Bapak cari siapa?”
“Ini rumahnya Ibu Lianawati ya Dek?” Anak itu mengangguk dan berlari kecil ke dalam. Ku dengar dia berteriak ‘Ibu’. Mungkin dia anaknya, pikirku. Sejurus perempuan itu datang.
“Oh, Mas fotokopi? Ada keperluan apa Mas?” Tanyanya kemudian.
“Namaku Gofur.” Kataku kemudian mengulurkan tangan, tapi dia tidak menyalamiku melainkan hanya mengangkat kedua tangannya.
“Liana.” Ujarnya dengan sebilah senyum.
“Oh maaf, aku kesini untuk mengantarkan ini.” Kataku kemudian menunjukan KTP dengan canggung. Dia kembali tersenyum. Senyumnya manis menurutku.
“Maaf aku lupa Mas. Anak – anakku sakit. Aku jadi repot. Hari ini saja aku tidak bisa kerja.”
“Memang mbk berapa anaknya? Kelihatannya ramai rumahnya.”
“Tujuh anak dan Ibu yang tengah berbaring di kamar.”
“Hah?” Aku melongo. Liana terkekeh.
“Aku belum menikah. Mereka anak kakak – kakakku.”
Entahlah perasaan apa yang aku rasakan sekarang tapi aku merasa lega mendengar dia belum menikah.
“Kalau boleh tahu apa yang terjadi dengan orang tua mereka?” Tanyaku kemudian.
“Mungkin Mas mendengar beritanya. Beberapa hari lalu ada kecelakaan mobil di Tol Cipali yang menewaskan 5 orang. Mereka adalah kakakku, kakak iparku, dan ayah. Mereka sebetulnya hendak menjemput aku di Bandara.” Jelasnya dengan sorot mata sendu, kemudian air matanya perlahan turun. Aku bingung apa yang harus aku lakukan karena tidak terbiasa dalam situasi ini.
“Aku mendegar berita itu. Aku turut prihatin. Maaf telah membuat kamu mengingat itu kembali.”
Liana menyeka air matanya. Tiba – tiba kami dikejutkan dengan teriakan anak kecil yang meraung kesakitan. Liana kemudian lari. Aku menyusulnya.
“Apa yang terjadi?” Tanyaku melihat anak itu muntah – muntah.
“Dia terserang muntaber, Mas!” Jawabnya sambil memijat leher anak itu.
“Lekas bawa ke Rumah Sakit!”
“Uangku habis Mas, kemarin aku mencoba mengajukan keringanan tapi belum ada pemberitahuan dari Rumah Sakit.”
“Aku bawa motor biar kubawa dia sekarang.”
Liana mengangkat dan membaringkan dia ke punggungku lalu aku membawa dia segera ke Rumah Sakit.
***

Ada perasaan yang sulit aku terjemahkan beberapa hari ini. Rasa kasihan? Kurasa bukan. Kagum? Kurasa bukan? Kehilangan? Kurasa juga bukan. Mungkin aku tidak sepandai Kahlil Gibran dalam mengutarakan perasaannya. Yang jelas mungkin ini kombinasi dari perasaan – perasaan itu.
“Mungkin itu cinta, Fur! Kamu tahu Nak? Cinta adalah sesuatu yang datang dari hati, bukan nafsu. Karena cinta yang datang dari hati akan abadi meskipun orang yang kita cintai telah tiada, tapi cinta yang datang karena nafsu hanyalah bentuk pelampiasan.” Jawab ibu setelah aku menanyakan pendapatnya.

Ibu benar. Aku harus memahami makna cinta yang sebenarnya. Yang jelas bukanlah cinta karena nafsu seperti aku dulu dengan Fajar. Ya Allah… maafkanlah aku yang dulu sempat masuk dalam lubang hitam. Maafkanlah aku yang dulu terlena dengan maksiat yang membutakan kedua mata dan hatiku. Padahal sudah jelas diceritakan dalam kisah Nabi Luth ketika Kau mendatangkan gempa bumi yang kuat dan hebat, angin kencang, dan hujan batu yang menghancurkan kaumnya yang berbuat hal tersebut. Sungguh tak kuragukan hal itu sedikit pun Ya Allah…

 “Gofur… Jodoh ada ditangan Allah. Mungkin Mirna bukan jodohmu. Namun Allah sudah menyiapkan perempuan lain yang jauh lebih baik untukmu.” Kata ibu memecah lamunanku. Aku tahu ibu berusaha memojokanku. Mukaku langsung memerah.
“Liana perempuan yang baik. Tidak banyak perempuan yang mau merawat 7 orang anak yang sama sekali bukan darah dagingnya. Kupikir dia butuh seorang pendamping hidup yang mau dengan ikhlas berbagi untuk merawat mereka bersama – sama.”
Aku seketika terdiam. Ibu berhasil menyihirku menjadi arca melalui kata – katanya.
“Kamu bersedia menjadi pendamping hidupnya, Gofur? Ibu tidak sungkan menganggap 7 orang itu sebagai cucu ibu.”
Ibu tidak pernah berbasa – basi dalam ucapannya. Aku masih belum bisa membuka mulut. Artinya belum mengiyakan atau menolak.
***

Miracle comes after a lot of hard work. Itu kalimat yang diungkapkan oleh Sue Bender. Kupikir ada benarnya. Aku telah melewati banyak hal. Aku telah belajar dari banyak masalah. Namun aku bahagia akhirnya aku telah menemukan arti bahagia sesungguhnya. Kini aku sudah tidak menjadi duda, melainkan seorang suami. Yah, suami yang memiliki 7 orang anak dan akan menjadi 8 beberapa bulan lagi.  Aku melamar Liana dan dia mau menerimaku seutuhnya. Dengan pernikahan yang tidak semewah dulu dengan Mirna kami sah menjadi pasangan suami istri. Alhamdulillah… Aku yakin dengan kekuatan cinta yang datang dari-Mu. Melalui Liana, Kau telah mengembalikan kodratku sebagai laki – laki. Aku semakin sadar, bukan karena aku tidak tertarik pada Mirna sebagai perempuan melainkan tidak adanya cinta diantara kita, dan bukan karena aku mencintai Fajar melainkan hanya nafsu yang ada.

SELESAI











Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman CPNS Dosen 2024: Titik Akhir, Awal Baru

Pengalaman Kuliah S2 di Inggris

PENGALAMAN DAN TIPS UNTUK IELTS