KEUNIKAN YANG SAYA TEMUKAN DI INGGRIS
Selama
setahun saya kuliah S2 di University of Leeds, Inggris, saya tinggal
bersama 3 orang yang berasal dari 3 negara berbeda: Chau (Vietnam), Raluca
(Romania), dan Aidan (Inggris) di rumah beralamat 11 Well Close Rise.
Rumahnya sendiri terdiri dari 3 lantai. Lantai 1 terdapat dua kamar (kamar Chau dan
Aidan) dan 1 kamar mandi. Lantai 2 dipakai untuk dapur dan ruang tamu sedangkan
di lantai 3 ada 2 kamar (kamar saya dan Raluca) dan juga 1 kamar mandi. Bisa
dibayangkan, di dalam rumah saja saya menemukan banyak hal baru karena terdapat
4 orang dengan budaya yang berbeda. Tapi, justru disitulah saya banyak belajar
dan semakin membuka wawasan saya tentang keragaman budaya. Pada awal perkenalan
kami, saya menemukan 4 aksen bahasa Inggris yang berbeda. Sebagai orang Inggris,
Aidan tentunya orang yang memiliki British aksen. Saya ingat sekali
ketika pertama kali mengobrol dengan Aidan, saya cukup kesulitan menangkap
dengan jelas apa yang dia katakan. Bukan karena saya tidak mengerti vocabulary
yang dia gunakan, tapi pronunciation yang tidak jelas menurut saya waktu itu. Tapi, seiring berjalannya waktu dan seringnya saya mendengar dia
berbicara, telinga saya sudah mulai terbiasa dengan aksen yang dia pakai. Saya
pun kemudian tidak banyak menemukan kesulitan lagi ketika dia berbicara. Untungnya,
saya tidak mengalami kesulitan dalam memahami Bahasa Inggris yang disampaikan oleh
dosen – dosen saya di kampus. Pronunciation mereka clear dan aksennya
pun mudah diikuti. Saya bisa menangkap materi dengan jelas dari mereka.
Tapi memang hal ini perlu disiapkan, itulah kenapa hampir semua universitas di
UK memberikan persyaratan nilai IELTS minimal 6,5 atau 7. Di program studi saya
(school of education) di University of Leeds sendiri memiliki
persyaratan minimal IELTS overall 7. Salah satu tujuannya agar siswa
bisa mengikuti kelas dimana Bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar.
Selain
dari bahasa, hal lain yang saya temukan cukup unik adalah makanan. Sebelum saya
berangkat ke Inggris, ada sedikit rasa khawatir bagaimana menemukan makanan
halal. Ternyata, makanan halal banyak dijual di Inggris. Dibeberapa restaurants,
shops, atau supermarkets biasanya menyediakan sections untuk
makanan halal. Namun, kita juga harus tetap berhati – hati dengan membaca ingredients
yang terkandung pada makanan tersebut karena makanan halal dan non halal
biasanya bercampur. Untuk memastikan, logo halal bisa ditemukan pada makanan
halal. Cara lain yang biasa saya lakukan adalah dengan tidak memesan ayam atau
daging ketika makan bersama teman - teman di restauran yang kehalalan makanannya masih
dipertanyakan. Saya memilih makanan untuk vegetarian atau ikan saja yang lebih aman. Lalu
apa makanan yang dimakan oleh orang Inggris? Sejauh pengamatan saya dari Aidan
dan beberapa teman – teman di kelas. Untuk makan siang, mereka biasanya membawa
sandwiches dengan isian bermacam – macam, misalnya cheese, ham, ikan
tuna, dll. Mereka juga selalu membawa buah – buahan seperti jeruk atau apel dan
makanan ringan sebagai snacks. Untuk makanan berat, mereka suka steak, chicken peri – peri,
dan sesuatu yang grilled dengan komposisi bumbu yang sederhana jika dibandingkan dengan makanan Indonesia. Bisa dikatakan mereka
sangat jarang memakan nasi seperti kita, tapi beras disini juga banyak ditemukan
dan mereka suka memakannya meskipun tidak sering. Karbohidrat yang mereka makan
mostly berasal dari roti dan kentang. Salad pun sering menjadi
menu makan mereka baik salad sayur dengan campuran ayam, pork,
atau ikan dan salad buah.
Jika dilihat dari personalities mereka, saya tidak menemukan masalah. Mungkin setiap orang
memiliki pengalaman berbeda, tapi saya merasa nyaman dengan mereka. Orang Inggris
mostly ramah, mereka juga murah senyum dan helpful. Jadi kita
tidak perlu takut untuk bertanya sesuatu jika memang diperlukan. Dengan
senang hati mereka akan membantu kita. Juga, jangan merasa sungkan untuk meminta
mereka mengulang apa yang mereka katakan jika kita tidak bisa menangkap pesan
mereka dengan jelas. Kita bisa bilang “pardon?”, “excuse me?”, “sorry?”, “what
did you say?”, atau “could you repeat what you said, please?”. Intinya kita memang harus percaya diri
dan tidak perlu takut untuk berbaur dengan mereka. Dari kebiasaan mereka, orang
– orang disini kerapkali merayakan sesuatu dengan minum ke pub. Saya beberapa
kali ikut ke pub, tapi tentunya saya tidak ikut minum minuman beralkohol.
Sebelumnya saya bilang ke teman – teman saya kalau saya tidak minum alkohol dan
mereka tidak mempermasalahkan itu. Sebagai gantinya saya memesan kopi dan kami
tetap bisa mengobrol santai, bercanda, dan having fun.
Hal
lain yang mungkin menjadi kebiasaan mereka dan tidak dilakukan oleh orang –
orang di Indonesia adalah kebiasaan mereka berjalan kaki dan bersepeda. Disini,
motor sangat jarang sekali ditemukan, bahkan saya hampir tidak pernah melihatnya.
Orang – orang Inggris sangat peduli dengan kesehatan mereka, itulah sebabnya
mereka gemar berjalan kaki atau bersepeda. Jika jarak yang ditempuh masih masuk
akal (kurang dari 30 menit on foot), mereka memilih berjalan kaki
kecuali cuaca sedang buruk misal hujan atau turun salju. Jarak dari rumah saya ke
kampus tidak jauh (bisa ditempuh dengan 12 menit jalan kaki). Rumah saya pun
dekat dengan city centre, sehingga saya tidak perlu naik bus untuk
berbelanja atau hang out dengan teman – teman. Selama setahun disini (despite
the weather was so freaking cold), saya jarang sekali sakit. Alasannya mungkin
karena disini saya hampir tiap hari berjalan kaki dan udara yang bersih. Disini
pun saya jarang makan makanan berminyak seperti goreng – gorengan yang banyak
ditemukan di Indonesia. Makanan saya bisa dibilang sehat karena saya banyak
mengkonsumsi ikan, daging, sayur, buah, dan susu disini.
Lalu
apa biaya hidup disini mahal? Well, semua tergantung dari pola hidup
kita. Kalau saya pribadi, saya selalu mengatur pengeluaran saya. Tapi, saya pun
tidak pelit untuk membeli sesuatu yang memang benar – benar diperlukan. Hampir
tiap hari saya masak dan kebiasaan ini bisa menghemat sekali ketimbang beli
diluar. Saya belanja tiap minggu di supermarket kesayangan saya, Morrison.
Tiap minggu saya biasa menghabiskan kurang lebih £30. Sedangkan kalau kita
makan diluar, sekali makan bisa £6 - £10. Bisa dibayangkan betapa borosnya saya
kalau tiap hari makan diluar. Disini tidak ada makanan murah seperti warteg dan
memasak sendiri pun jauh lebih nikmat dan puas. Dengan catatan kita bisa masak.
Tapi zaman sekarang semuanya mudah, saya sendiri masak dengan bantuan youtube
dan rasanya tidak jauh berbeda dengan makanan yang biasa saya makan di Indonesia. Bumbu – bumbu dapur bisa ditemukan di
toko – toko Cina disini seperti kecap, saus ABC, tempe, tahu, kacang – kacangan,
dll. Memang ada beberapa bumbu dapur yang susah ditemukan seperti kemiri dan terasi.
Tetapi, dengan tidak adanya bahan itu bukan berarti kita tidak bisa masak kan? Buktinya
saya masih bisa memasak ayam goreng, balado telor, balado ayam, sayur sop, tempe mendoan, tumis udang, tumis kerang, dll.
Setelah
masa kontrak saya habis tinggal di 11 Well Close Rise. Saya pun tinggal
di rumah Jeanne, wanita single parent berusia 60-an dari Inggris
selama sebulan sebelum saya pulang ke Indonesia. Saya menemukan rumah itu dari AirBnB.
Tujuan saya memilih tempat tinggal Jeanne karena saya ingin belajar
lebih jauh budaya orang Inggris. Di rumah itu saya tidur disebuah kamar yang cukup
luas dengan ukuran kasur double bed. Di dalam kamar juga terdapat 2
lemari pakaian, 1 meja belajar, 1 sofa, dan 1 TV. My first impression ketika
melihat kamar itu 'terkejut' karena kamar itu jauh lebih besar dari kamar saya di
11 Well Close Rise. Jeanne pun sangat ramah sekali dan asyik buat diajak ngobrol. Selain saya dan Jeanne, dirumah itu juga terdapat Chris
dan Luke. Mereka adalah lodgers permanen yang sudah Jeanne
anggap sebagai keluarga sendiri. Sementara putri semata wayangnya, Sally, tinggal
bersama pacarnya disebuah apartemen di city centre. Diusianya yang sudah
tidak muda, Jeanne masih bekerja paruh waktu. Dulu dia adalah seorang
pengacara. Sekarang, dia menjalanakan bisnis penyewaan kamarnya di AirBnB dan
mencari kesibukan lain dengan bekerja di vape shop di city centre dengan waktu kerja 3 hari dalam seminggu. Kesibukannya dirumah adalah memasak dan membaca. Dia selalu bilang
kalau dia enjoyed dengan kesibukannya. Setiap pagi dia selalu bangun
lebih siang dari saya (dia bangun sekitar pukul 08.30 am – 09.00 am). Kami seringkali sarapan bersama
kalau kebetulan waktunya matched. Sehabis sarapan Jeanne pergi
ke backyard dan membaca dengan ditemani secangkir teh susu. Pernah kutanya apa
yang dia baca di kindle-nya itu. Dia bilang dia suka membaca cerita
fiksi. Dia memang hobi membaca dan itu membuat otaknya berpikir dan bekerja
katanya. Dari Jeanne saya belajar bahwa membaca harus menjadi
kebiasaan yang kita lakukan setiap hari.
Hobi lainnya selain membaca adalah berolahraga. Di dalam basement-nya, Jeanne menaroh treadmill. Dia bisa
menggunakan waktu menunggu cucian bajunya selesai di mesin cuci dengan
berolahraga di treadmill atau membaca. Luar biasa! Dan ada satu obrolan menarik yang pernah kami
bicarakan seusai makan malam. Topiknya adalah marriage. Dari apa yang dikatakan
Jeanne sebagai perempuan asli Inggris. Pernikahan adalah sesuatu yang personal di Inggris. Jadi, orang lain tidak berhak ikut campur atau bertanya kapan seseorang
akan menikah. Tidak sedikit orang – orang disini memilih untuk tidak menikah
dan hidup sendiri. That is fine here. Dan hal menarik lainnya adalah jika
dalam sebuah keluarga terdapat anak kecil yang masih harus dijaga at all times dan
kedua orang tuanya bekerja. Maka, keputusan siapa yang harus berhenti bekerja dilihat berdasarkan siapa yang memiliki gaji lebih kecil. Jika suami memiliki gaji yang lebih kecil dari istri, maka
suami harus tinggal di rumah mengurus anak dan menjaga rumah sedangkan istri
bekerja mencari nafkah. Alasannya karena mereka tidak mau hidup mereka menjadi susah dengan
mempertahankan gaji suami yang lebih kecil dan tidak cukup memenuhi kebutuhan
rumah tangga. Lain halnya jika mereka memang mau dan mampu membayar nursery teacher untuk mengasuh anaknya. Hal ini membuat saya shocked karena saya sendiri jika sudah berumah
tangga tentunya tidak akan mau melakukan itu. Tapi Jeanne bilang kalau di Inggris
hal tersebut sudah biasa dilakukan dan tidak ada masalah sama sekali. But
still, really? Orang – orang disini pun ternyata sangat detil dalam
merencakanan sesuatu. Dari obrolan yang saya dapatkan dari Jeanne juga, pasangan
suami istri selalu melihat kemampuan finansial mereka ketika memutuskan untuk
punya anak. Ketika mereka merasa kalau keuangan masih belum cukup untuk membiayai
anaknya nanti, istri akan menunda kehamilannya. Jumlah anak yang dimiliki pun
disesuaikan dengan kapasitas mereka. Mereka tidak akan memiliki anak dengan
jumlah yang terlalu banyak (yang tidak sesuai dengan keuangan ekonomi mereka). Bagaimana
di Indonesia? Di Indonesia, justru masih banyak orang yang memegang prinsip
banyak anak banyak rezeki sedangkan dari kesimpulan yang saya tangkap dari Jeanne,
justru orang Inggris berpikir, banyak anak akan banyak pengeluaran (pendidikan,
asuransi, biaya hidup, dll). Menarik, bukan? Ditambah lagi, Jeanne bilang kalau anak perempuannya menikah dan punyak anak, dia tidak mau menghabiskan hidupnya untuk mengasuh cucunya. Dia bahkan bilang, "I will only take care of my grandchild once a week.". Alasannya karena dia punya kehidupan dan kesibukan sendiri. Dia harus bekerja, liburan bersama teman - temannya, dan melakukanan apapun yang dia mau. Dan hal ini bukan saja Jeanne yang lakukan, tapi mostly orang Inggris berpikir demikian. What about us? People in Indonesia? Seringkali saya menemukan pasangan suami istri yang punya anak lalu menitipkan anaknya ke orang tua suami atau istri. Mungkin ini tidak masalah kalau memang orang tua dari suami atau istri tersebut mau melakukannya. Tapi, bagaimana jika mereka setengah hati melakukannya? Apakah kita akan memaksa? Ini PR buat kita nanti.
Hal
positif dari pengalaman yang saya temukan di Inggris adalah pembelajaran. Saya banyak
belajar sesuatu yang baru, yang mungkin tidak akan saya temukan di Indonesia.
Saya tidak akan melihat perbedaan ini sebagai sesuatu yang negatif. Justru,
saya ingin terus menggali dan belajar lagi tentang perbedaan kebudayaan dari setiap negara. Perbedaan itu indah. Maka, saya ingin berpesan untuk tidak takut belajar sesuatu
yang baru. Buat saya, kehidupan adalah pembelajaran, maka cobalah temukan sesuatu yang baru setiap harinya baik dengan membaca, berdiskusi, ikut seminar/workshop, dll. Belajar bisa dilakukan
dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa pun. So, keep learning and all the best!

Inspiring wan..
BalasHapusLove it.
Regards to your lovely landlord.
Thanks for reading, Ben. :)
HapusTerima kasih mas Wawan sudah berbagi pengalamannya... sangat menginspirasi sekali.
BalasHapusTerima kasih juga buat Jeanne yang sudah berbagi cerita tentang pengalaman dan pelajaran hidup.. (❁´◡`❁)
You are welcome, Bagus. Thanks for reading ya. :)
Hapuslet's go travel different place Wan and you will find out more ;)
BalasHapusAyuk Man, kita ngebolang lagi kayak dulu. :D
Hapus