NGAROT
Sawah tampak membentang luas dibawah terik yang perlahan akan menyusut. Disudut – sudut jalan terlihat beberapa orang bergegas pulang. Pakaiannya kotor dan sisa – sisa keringat terlihat di wajahnya yang sudah menua. Sebentar lagi sawah – sawah ini akan di biarkan membeku oleh udara malam yang dingin. Entah apa yang membuatku mampu berlama – lama di persawahan itu, mungkin karena almarhum ayah ku seorang petani. Ah, tapi bukan itu alasannnya. Aku hanya menghitung – hitung menjelang penggarapan sawah tiba. Itu artinya ritual di desa ku kembali akan berlangsung. Perayaan yang mengusik pikiranku selama ini. Pikiranku kembali menari setiap kali memikirkannya, terlebih dengan ucapan ibu yang secara gamblang bilang kepadaku, “Kamu sudah perawan, kali ini harus ikut Ngarot.” Oh ibu... andai kau tahu bahwa anakmu ini sejujurnya tak sudi ikut ritual itu. Apakah kau akan menarik ucapanmu itu? Sekal...