Postingan

NGAROT

                Sawah tampak membentang luas dibawah terik yang perlahan akan menyusut. Disudut – sudut jalan terlihat beberapa orang bergegas pulang. Pakaiannya kotor dan sisa – sisa keringat terlihat di wajahnya yang sudah menua. Sebentar lagi sawah – sawah ini akan di biarkan membeku oleh udara malam yang dingin. Entah apa yang membuatku mampu  berlama – lama di persawahan itu, mungkin karena almarhum ayah ku seorang petani. Ah, tapi bukan itu alasannnya. Aku hanya menghitung – hitung menjelang penggarapan sawah tiba. Itu artinya ritual di desa ku kembali akan berlangsung. Perayaan yang mengusik pikiranku selama ini. Pikiranku kembali menari setiap kali memikirkannya, terlebih dengan ucapan ibu yang secara gamblang bilang kepadaku, “Kamu sudah perawan, kali ini harus ikut Ngarot.” Oh ibu... andai kau tahu bahwa anakmu ini sejujurnya tak sudi ikut ritual itu. Apakah kau akan menarik ucapanmu itu? Sekal...

JIN SUNAT

Perbincangan itu mungkin akan berbuntut panjang. Memang sangat tidak mudah membujuk orang yang berhati dingin dan keras kepala. Segala cara dilakukan namun hasil nya nihil, tetap  saja membantah, tapi mungkin kali ini lain. Pak Ginanjar dan Bu Wiwi tampak lebih keras dan bisa dibilang akan ada sedikit pengaruhnya. Dulu mungkin Bu Wiwi akan mencegah dan memarahi agar Pak Ginanjar tidak berlaku keras terhadap Basrul, anak semata wayangnya itu. Sehingga, Pak Ginanjar selalu mengurungkan dan menahan amarah yang mungkin sudah meledak – ledak di kepalanya. Namun setelah masalah itu sudah semakin menjamur,  Pak Ginanjar yang berbalik memarahi Bu Wiwi yang selama ini selalu menjadi pelindung Basrul. “Karena ibu juga yang terlalu memanjakan dia, terlalu menuruti apa yang dia mau. Sekarang begini kan jadinya? Kita juga yang repot. Bapak malu Bu sebagai kepala kuwu disini? Kapan Basrul mau berubah! Sampai kapan seperti ini terus?”. Itu kata – kata terakhir yang di ucapkan Pak Ginanj...