NGAROT


                Sawah tampak membentang luas dibawah terik yang perlahan akan menyusut. Disudut – sudut jalan terlihat beberapa orang bergegas pulang. Pakaiannya kotor dan sisa – sisa keringat terlihat di wajahnya yang sudah menua. Sebentar lagi sawah – sawah ini akan di biarkan membeku oleh udara malam yang dingin. Entah apa yang membuatku mampu  berlama – lama di persawahan itu, mungkin karena almarhum ayah ku seorang petani. Ah, tapi bukan itu alasannnya. Aku hanya menghitung – hitung menjelang penggarapan sawah tiba. Itu artinya ritual di desa ku kembali akan berlangsung. Perayaan yang mengusik pikiranku selama ini. Pikiranku kembali menari setiap kali memikirkannya, terlebih dengan ucapan ibu yang secara gamblang bilang kepadaku, “Kamu sudah perawan, kali ini harus ikut Ngarot.” Oh ibu... andai kau tahu bahwa anakmu ini sejujurnya tak sudi ikut ritual itu. Apakah kau akan menarik ucapanmu itu? Sekali lagi aku tenggelam dalam lamunan itu.
            “Ratna... Ayo pulang! Sebentar lagi Magrib! Mau sampai kapan disana?”
            Seperti dugaanku, ibu akan menyusulku pulang. Dengan langkah berat aku menggerakan kakiku. Suara adzan terdengar dari surau terdekat. Itu mengingatkanku kembali akan kebesaran sang Ilahi. Sejurus ngarot yang muncul di kepalaku lagi, melihat perayaan itu melenceng dari apa yang ku ketahui soal agama. Perayaan pesta makan syukuran yang sulit ku mengerti. Kalau kau hendak bersyukur, kenapa kau tidak memohon pada-Nya? Kerap kau berdoa, maka Tuhan akan kabulkan. Ah, lantas lari kemana para pemuka agama yang silih berganti mengisi mushola – mushola itu melihat fenomena ini? Apakah hanya dibiarkan? Tuhan, aku yang mengutuk ritual itu, tapi aku juga yang sebentar lagi akan mengikutinya. Ironis.
            “Apa yang kamu pikirkan sebenarnya? Ibu lihat kamu sering melamun akhir – akhir ini?” Tanya ibu. Kami masih menyusuri jalan berkerikil menuju rumah.
            “Tidak ada. Aku hanya beradu dengan pikiranku.” Seruku datar.
            “Kamu harusnya senang seperti gadis – gadis lainnya.”
            Sepertinya aku tahu arah pembicaraan ibu. Tidak lain ibu membicarakan ngarot.
            “Ngarot adalah acara yang ditunggu – tunggu para cuene (perawan) dan jejaka (perjaka). Beruntunglah kita ada di desa Lelea ini. Desa lain dilarang mengikutinya.” Jelas ibu padaku. Tersirat kekaguman di wajahnya. Aku hanya bisa menelan ludah. Haruskah ku bilang pada ibu dan mengutarakan perasaan yang ku pendam ini? Tuhan tolong aku!
            “Sebentar lagi gelap. Anak perawan tidak baik berada di luar rumah.” Kata ibu. Dia mempercepat langkahnya. Tanganku di raihnya. Cukup sulit aku menyeimbangi gerak langkah ibu. Dan aku berharap bulan november ini akan bergerak secepat langkahnya.      
***
            Di berbagai tempat yang ku kunjungi semua membicarakan ngarot. Di pasar, sawah, tanggul, bahkan warung nasi saat aku membeli sarapan di Bu Lik ini. Warung yang terbilang kecil namun lengkap dan murah untuk masuk perut warga Lelea. Biasanya warung ini menjadi tongkrongan tukang becak yang lapar.
            “Dul, anakmu ikut ngarot tahun ini?” Tanya seorang tukang becak berjanggut pada temannya.
            “Ngaco kamu To, anakku itu kan udah kawin.” Jawab tukang becak yang memakai kaos partai itu.
            “Kalau sudah tak perawan ya dilarang ikut toh. Bakal jadi aib nanti.” Bu Lik ini menyambar obrolan para tukang becak itu.
            Aku bergeming. Sebetulnya ini obrolan yang sama sekali tidak menarik buatku tapi aku masih menunggu Bu Lik ini membungkus dua nasi uduk yang aku pesan.
            “Jelas toh Bu Lik. Kalau warga lihat bunga melati yang dipakai anakku layu pasti kehormatannya rusak. Bisa jadi fitnah nanti.” Ujar lagi tukang becak berkaos partai itu.
            “Masalah besar itu!” Pekik tukang becak berjanggut.
            Aku terbatuk. Itu sedikit mengalihkan perhatian mereka.
            “Kalau gadis ayu ini pasti ikut toh?” Bu Lik bertanya padaku.
            Aku merasa tersudut disitu, akhirnya ku jawab “Iya” dengan wajah tanpa sedikit pun ada rasa antusias.
            “Anaknya Bu Siti ya?” Tanya lagi Bu Lik ini. Aku mengagguk.
            “Lah, anak gadis ya wajib ikut, bisa jadi ketemu jodoh kan?” Ledek Bu Lik padaku. Mereka pun tertawa.
            “Kalau anak gadis gak ikut ya itu juga bisa jadi masalah toh!” Sahut tukang becak berjanggut kemudian.
            Aku tidak ingin banyak bicara. Beruntung Bu Lik selesai membungkus nasi uduk pesananku. aku tak ingin menambah beban di otakku dengan mendengar obrolan konyol mereka. Setelah kubayar nasi itu, aku segera beranjak pulang ke rumah cepat – cepat.
            Sungguh desa ini sudah terbius dengan ritual ngarot. Bukan saja menjadi topik pembicaraan, beragam persiapan untuk pasar malam nya pun sudah terlihat.  Nyaliku semakin ciut. Tinggal menghitung hari ngarot akan dimulai. Dan itu membuatku mati kutu.
            “Ratna.. tunggu!” Aku mendongak ke belakang. Ternyata Puput, wajahnya tampak sumringah. Tahi lalat yang ada di atas bibir terlihat menyiku karena senyumnya yang lebar.
            “Bagaimana persiapannya?” Tanya Puput.
            “Persiapan apa?” Tanyaku.
            “Ngarot lah, kita kan sepakat ikut tahun ini.”
            Aku tersenyum giming. Aku bahkan lupa soal kesepakatan itu. Ah, itu bukan kesepakatan. Aku hanya tersudut saat bilang untuk ikut ngarot.
            “Put, menurutmu kalau ada anak gadis yang tidak ikut ngarot bagaimana?” Ujarku dengan ragu menanyakannya.
            “Alasannya?”
            “Tidak ada alasan.”
            “Itu aneh. Kecuali kalau dia sudah tidak cuene atau jejaka lagi.”
            “Kamu tahu kalau seorang gadis bahkan bisa tidak cuene lagi walaupun tidak berhubungan seks seperti itu?” Kataku.
            “Aku tidak tahu soal itu.”
            “Kamu tahu kalau berdoa selain kepada sang Ilahi itu berdosa?”
            Puput tampak bingung. Mungkin aku terlalu banyak bertanya padanya.
            “Kamu kenapa bertanya hal seperti itu?” Wajahnya penuh keingintahuan.
            Bisa kutebak kalau Puput pasti akan balik bertanya seperti itu. Mungkin sebaiknya aku tidak meneruskan perbincangan ini.
            “Tidak ada maksud apa – apa. Maaf, aku harus segera pulang. Ibu menunggu di rumah.” Kilahku kemudian. Padahal sepertinya Puput masih ingin bicara banyak denganku.
            “Oh ya sudah, Sampai nanti di pawai ngarot ya.” Seru Puput.  Aku hanya memberikan senyum dan pergi meninggalkannya. Mungkin ada baiknya aku harus berhati – hati dalam berbicara. Semakin aku menunjukan ketidaksukaanku terhadap ngarot ini, malah akan menjadi boomerang untukku dan juga ibu.
***
            Disinilah semuanya bermula, ketika semua gadis cuene dan jejaka desa lelea yang ikut ngarot ini bersolek di rumahnya masing – masing. Ibu mendandaniku dengan hati – hati. Di depan cermin aku seperti melihat orang lain. Taburan bedak dan polesan lipstik beradu. Tak kalah dengan balutan aksesoris seperti kalung, gelang, giwang, bros, dan peniti emas. Dan terakhir,  kepalaku yang berhias bunga warna-warni seperti kenanga, melati, mawar, kantil, dan kertas yang menurutku sangat mengganggu. Mungkin para cuene dan jejaka lainnya akan merasa bahagia dan berdebar hatinya. Dengan balutan kebaya berselendang, para cuene akan memikat hati para jejaka, sebaliknya para jejaka akan memikat hati para cuene dengan mengenakan kostum dominan warna hitam, berpakaian kebaya dan celana komboran serta sandal berwarna hitam, lengkap dengan ikat kepala mereka.
            “Cantik sekali anak ibu...” Goda ibu.
            Aku tersenyum palsu. Sungguh aku ingin lari. Lari dari kenyataan sebagai warga Lelea. Kenapa harus ada istilah ngarot di desa ini? Kenapa harus desa tempat kelahiranku ini?
            “Ada yang mengganggumu, Ratna?” Tanya ibu akhirnya.
            Aku mencoba menahan emosiku, “Aku tidak yakin bisa mengikutinya Bu.”
             Ibu sedikit gusar dengan pertanyaanku. Terlihat dari matanya yang nanar.
            “Apa yang membuatmu begitu?”
            “Aku takut.”
            “Ibu sudah curiga dari awal.” Jawab ibu.
            “Ibu... “ Entah betapa bodohnya aku ini. Air mataku meleleh turun. Itu membuat bedak di wajahku luntur. Ku peluk ibu. Ibu mengusap air mataku perlahan.
            “Aku takut bunga yang terselip di kepalaku ini layu. Bagaimana kalau hal itu terjadi? Kenapa keperawanan dan keperjakaan itu harus menjadi syarat dalam ritual ini? Ini sungguh mengusikku Bu.”
            Ibu mengambil bedak dan memoles kembali wajahku yang tadi luntur kemudian berkata, “Karena hal tersebut sangat sakral. Dan kamu tak perlu takut, bukankah kita selalu menjaga kesucian itu?”
            “Selain itu, bukankah lebih baik kita bersyukur kepada sang Ilahi daripada melakukan ritual semacam ini?” Tanyaku lagi.
            “Kamu persis seperti ibu dulu.” Gumam ibu.
            Persis seperti ibu? Kalimat itu menahanku.
            “Dulu waktu masih gadis, ibu menolak ikut ngarot. Alasannya sama seperti yang kamu bilang tadi. Dulu ibu berasumsi, perawan atau tidak, perjaka atau tidak, itu bukan konsumsi masyarakat umum. Tapi setelah itu ibu sadar.”
             “Lantas?” Kataku penasaran. Aku menunggu kelanjutan perkataan ibu.
            “Kamu akan tahu jawabannya nanti.”
            Apa mungkin ibu sedang menjebakku agar ikut ritual ini? Kalau memang iya, sungguh hebat cara yang ibu lakukan. Dia berhasil membuat ku hampir mati karena rasa penasaran.
            “Ayo kita berangkat ke rumah Pak Kuwu sekarang, yang lain pasti sudah berkumpul disana.”
            Aku tak punya pilihan selain mengikuti ibu. Sungguh ingin rasanya aku menyudahinya tapi hal itu tidak mungkin aku lakukan sekarang.
***
            Benar kata ibu, Para cuene dan jejaka ini sudah berkumpul. Sejurus aku pangling melihat mereka. Polesan make up itu membuat mereka berbeda. Apa para cuene dan jejaka ini berusaha mati – matian untuk memikat hati satu sama lain? Dan lagi, tidak ada rasa secuil pun rasa takut di mimik mereka soal bunga yang mungkin akan layu mendadak. Bagaimana kalau itu terjadi? Aib dan olokan pedas pasti akan datang. Ah, membayangkannya saja sudah mengerikan. Itu alasan kenapa setiap menit aku mengecek bunga yang terpasang di kepalaku ini. Dan ibu, senyumnya megah. Padahal anak semata wayangnya ini sedang dirundung kekhawatiran. Pikiranku berkecamuk.
            Tak lama menunggu, sepertinya acara akan segera dimulai, ritual di mulai dari rumah pak kuwu kemudian kami peserta ngarot ini disiapkan untuk melakukan pawai mengelilingi kampung. Sejurus aku melihat Puput. Dia kelihatan cantik dari biasanya, kemudian dia berjalan ke arah ku.
             “Cantiknya... “ Puji Puput padaku. Aku tersenyum simpul.
            Akhirnya aku berpisah dengan ibu dan Puput bersamaku. Kami mulai pawai untuk berkeliling kampung di bawah teriknya sang surya. Pak Kuwu dan Bu Kuwu menjadi pengantin dan ada di barisan depan. Kami menjadi tontonan masyarakat, bukan hanya masyarakat desa Lelea tapi juga desa lain bahkan kota lain pun sengaja datang untuk melihat ngarot ini. Rasa takut ku kembali muncul. Aku mulai meraba – raba lagi bunga yang terselip di kepalaku.
            “Tidak layu kok, tenang saja.”
            Aku malu sekali. Puput rupanya memperhatikanku.
            “Aku takut Put. Apa kamu melihat bunga layu diantara peserta?” Bisikku.
            Puput sedikit tertawa, “Sejauh ini belum ada. Kamu panik sekali?”
            Panik? Tentulah aku panik. Bagaimana Puput bisa dengan enteng mengatakan hal konyol seperti itu, bagaimana kalau tiba – tiba bunga di kepalanya layu.
            “Aku yakin bunga di kepalaku tidak akan layu karena aku tidak pernah melakukan hal yang kotor.” Ujar Puput. Jujur aku sedikit tersinggung dengan ucapannya itu.
            “Aku pun tidak Put. Masalahnya... “
            “Masalahnya adalah rasa takutmu itu Ratna.” Puput memotong perkataanku. Aku sedikit merenungkan perkataannya.
            “Bergembiralah!” Pekik Puput. Mungkin Puput ada benarnya. Aku harus belajar menghilangkan rasa takut ini.
            Setelah berkeliling desa Lelea, pawai ini berakhir di balai desa. Kami digiring memasuki aula. Aku merasa canggung saat duduk harus berhadap – hadapan. Beberapa cuene saling senyum dengan jejaka itu atau sebaliknya. Mungkin bagi mereka ini momen yang ditunggu – tunggu. Konon dari apa yang aku dengar, jodoh yang didapat dari ritual ngarot itu kekal.
            “Ratna, laki – laki disebelah kiri itu selalu memperhatikan kamu.” Sepertinya Puput menggodaku. Dia tertawa kecil. Sedikit pun aku tidak tertawa.
            “Sebentar lagi inti acaranya akan dimulai.” Bisik Puput lagi. Aku lebih banyak diam, tapi tadi ada rasa penasaran yang menyeruak di kepalaku.
             Peserta ngarot ini kemudian dimanjakan dengan tarian – tarian tradisional. Tari topeng dan tari ronggeng, itu sedikit mengusir kepenatanku. Bahkan aku tidak bisa memalingkan pandanganku dari tarian itu. Musik dan tarian itu beradu sangat harmonis. Kerutan kekesalanku yang menumpuk pelan – pelan hilang dan berubah menjadi senyum kecil. Barulah kemudian upacara dimulai.
            Puput berbisik lagi kepadaku, “Upacara ini memberikan makna terhadap kehidupan masyarakat melalui perilaku yang dilakukan tetua adat kepada perwakilan jejaka dan cuwene”.  
            Makna? Ingin ku tanyakan lebih rinci maksud tersebut. Entahlah, pelan – pelan aku begitu terkesima. Di dalam upacara itu terdapat penyerahan bibit padi, pupuk, daun andog dan daun bambu kuning, serta kendi yang berisi air. Apa makna yang tersembunyi dari penyerahan benda tersebut? Aku menunggu Puput menjelaskannya.
            “Kamu tahu? Penyerahan bibit padi itu menyimbolkan bahwa musim tanam padi sudah tiba dan petani mulai menggarap sawah, penyerahan pupuk bermakna sebagai kesuburan, daun andog dan daun bambu kuning bermakna sebagai tanaman pengusir hama penyakit, penyerahan kendi yang berisi air bermakna menandakan kesuburan dengan melimpahnya air.”
            Luar biasa! Aku tak percaya Puput bisa menjelaskan itu semua. Aku tak percaya kalau dia tahu sampai sejauh itu. Aku begitu takjub dibuatnya. Dan ini semakin membuat ku penasaran. Mungkin ada hal lain yang belum ku ketahui soal ngarot. Aku ingin tahu semuanya.
            Sepertinya aku memang terhanyut dalam ritual ngarot ini. Waktu bergulir cepat dan ritual ngarot ini selesai tanpa aku sadari. Para cuene dan jejaka ini masih terlihat ceria. Aku kurang paham apa yang membuatnya seperti itu. Bisa jadi mereka sudah bertemu dengan jodohnya. Sejujurnya aku pun merasakan hal yang sama. Hanya saja aku punya alasan klasik dan itu jauh lebih penting dari apapun.
***
            Seperti biasanya, menjelang sore aku memanjakan diri untuk melihat sawah yang membentang di desa ku. Sebuah desa yang sangat permai. Ada perasaan tenang saat angin mencoba merayuku, atau gelagak burung di langit sana. Sungguh indah!
            Aku masih mengingat perkataan Puput kemarin seusai mengikuti ritual ngarot.
            “Jadi, adakah rasa takut atau penyesalan lagi dalam ritual ngarot?” Entah apa yang ada dipikiranku saat itu, aku pun spontan menjawab, “Tidak!” Mungkinkah perasaanku tersudut lagi saat itu?
            “Ayo, pulang! Sebentar lagi magrib.” Tiba – tiba teriakan muncul di belakangku. Ibu sungguh membuat ku terkejut.
            “Ibu!” Seruku.
            Tidak biasanya, ibu datang lebih cepat. Ada rasa enggan untuk pulang.
            “Apa yang kamu lihat disini?” Ujar ibu kemudian duduk disampingku.
            “Sawah – sawah ini Bu.”
            Ibu mengelus rambut ku yang ikal.
            “Ngarot dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil bercocok tanam. Ini adalah arena pembelajaran bagi para pemuda agar pintar dalam ilmu pertanian.”
            “Kepada Tuhan?”
            “Yah, ritual ini adalah perwujudan rasa syukur kita kepada-Nya”
            Sepertinya ibu memang tahu isi kepalaku. Aku memang masih terusik dan haus akan makna – makna yang terkandung dalam ngarot itu.
            “Ada yang menggangguku selama ini. Soal persyaratan cuene dan jejaka itu Bu. Jika seorang gadis tak perawan mengikuti pawai arak-arakan ngarot, maka bunga melati yang terselip di rambutnya, dengan sendirinya akan layu.”
            “Simbol-simbol pada upacara ngarot mengandung pesan, yaitu pada bunga kenanga pesannya agar para cuene tetap menjaga keperawanannya, bunga melati agar para cuene menjaga kebersihan diri dan kesuciannya, bunga kertas bahwa para cuene harus tetap menjaga kecantikannya sebagai kembang desa. Simbol pada aksesoris kalung, gelang, dan cincin mengandung pesan bahwa petani harus bekerja dengan giat dalam menggarap sawah agar hasil panennya melimpah, selendang mengandung pesan bahwa cuene harus menjaga penampilan fisik agar terlihat cantik dan menarik.” Jelas Ibu padaku.
            “Jadi?”
            “Rasa takut mu adalah bentuk kekhawatiran kesucian itu rusak. Itu mengingatkan kita harus menjaga dan berhati – hati dengan kesucian itu.”
            Aku membisu dan tidak bisa berkata – kata.
            “Dalam perkembangannya upacara ngarot mengalami pergeseran nilai, dan parahnya sekarang lebih dikenal sebagai ajang mencari jodoh yang sebetulnya itu pengertian yang salah.”
            Aku sepertinya sudah mengerti. Yah, mengerti semuanya. Kulihat sawah membentang ini. Luas dan megah. Karunia Tuhan yang begitu besar pada desa Lelea ini dengan tradisi ngarot yang syarat akan pesan didalamnya.  Mungkin dulu aku terlalu cepat menyimpulkan.
            “Oh ya, Bukankah ibu pernah bilang kalau ibu dulu persis seperti ku?” Tanyaku kemudian pada ibu.
            “Betul, ibu memberontak untuk ikut ngarot.”
            “Lalu”
            “Aminah, teman ibu yang kemudian menjelaskan semuanya pada ibu. Semua tentang ngarot yang ibu belum banyak ketahui.”
            “Aminah?” Aku sedikit terperanjat. Aminah adalah ibu dari temanku, Puput. Kenapa hal ini bisa terjadi secara kebetulan? Entahlah, yang jelas baik aku atau ibu sekarang sudah paham dan mengerti. Apa dan untuk apa ngarot ini diadakan. Dan kenapa harus tetap dilestarikan di desa Lelea tercintaku ini.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman CPNS Dosen 2024: Titik Akhir, Awal Baru

Pengalaman Kuliah S2 di Inggris

PENGALAMAN DAN TIPS UNTUK IELTS