Postingan

KONFLIK DALAM KARAKTER

Telah terjadi pergulatan dalam diri saya tentang karakter. Yang saya pahami, karakter adalah sesuatu yang tumbuh berkembang dalam diri kita yang sangat sulit kita ubah. Perubahan karakter bisa terjadi, namun hal tersebut harus atas kehendak orang yang bersangkutan bukan dipaksa oleh orang lain. Kiranya hal tersebut terjadi pada saya tepatnya pada tanggal 28 Juni 2016, tepat dihari kelahiranku. Salah teman terbaikku dikostan mendadak berubah badmood setelah saya kenalkan pada teman kantorku untuk berbuka puasa bersama. Hal ini bukan hal sengaja yang saya lakukan untuk membuatnya begitu, sampai kemudian dia bercerita kepadaku kalau dia tidak bisa mengimbangi pembicaraan aku dan teman kantor dan dia merasa dikesampingkan. Dia sedikit mem-blame saya karena tidak bisa melihat dia yang terasa mati kaku karena sulit mengikuti alur pembicaraan. Padahal didalam obrolan itu saya berusaha fokus pada keduanya dan tidak mengabaikan pihak manapun. Saya pun sedikit terganggu dengan alasan yang selal...

Identity Problem

If you feel confused to define who you are, you might have an identity problem. A few people think it is not really matter, yet I propose that identity problem or identity disorder plays significant role in my life. I used to have it before and I was painfully frustrated. Then, what is identity problem? Wikipedia says that i dentity disorder was 'downgraded' to Identity problems as research indicated that distress over one's identity is so common, that it might very well be considered part of the normality. It is not surprising if some people are still unable to even know who they are. Bear in mind that every single person on this planet is unique. Following the track of successful people is okay, but if we have to totally change our identity and erase our uniqueness, that will be a disaster for our life. We can actually copy some inspiring ideas done by some people beforehand, yet we do have to look at our capacity. Copying something based on physical things beyond o...

JODOH UNTUK GOFUR

Ruangan trapesium yang penuh deretan kursi berbaris ini tampak dingin seperti kutub. Mungkin karena AC yang diatur tidak stabil atau perasaanku yang membeku. Dari puluhan kursi itu aku duduk paling depan bersebelahan dengan Mirna. Aku tak banyak bicara kecuali pria beratribut seperti toga itu bertanya. Dibelakangku ada beberapa orang menunggu dengan ekspresi yang sama denganku, salah satunya ibu. Dan mungkin beberapa pasang kamera akan menyorotku saat ini kalau aku seorang publik figur. Yang jelas, di ruangan sidang ini, kami semua menunggu ketukan dari hakim. Ketukan yang akan menentukan jalan hidup aku dan Mirna. Tibalah momen yang kami tunggu. Pak hakim membunyikan palunya 3x seirama. Suara yang menurutku tidak asing namun membuat jantungku berdegup kencang. Karena pukulan palu itu kini aku secara resmi menyandang duda. Duda yang usia pernikahannya hanya 7 hari. Kulihat Mirna yang tadi duduk disebelahku lari kepelukan ibunya dibelakang. Aku tertunduk lemas dan juga malu. Bena...

SEKELUMIT KISAH SURYA

Andaikan kita boleh berargumen kepada Tuhan sebelum kita lahir, mungkin kita akan menyeleksi orang seperti apa yang pantas menjadi orang tua kita. Tentulah bukan orang tua miskin yang tidak menjamin masa depan. Bukan pemulung, pengemis, ataupun pedagang kaki lima. Siapa yang mau? Tidak ada orang di dunia yang sudi dilahirkan miskin. Semua diukur dengan uang. Semuanya! Titik! Cuma orang sinting yang berani bilang “Aku siap miskin!”. Atau bisa jadi ini perkara keberuntungan? Dilahirkan miskin dan tidak miskin adalah dua mata koin yang Tuhan lempar untuk kita. Kemiskinan bukan hal aneh bagiku. Aku sudah hidup miskin sejak orok. Orang tuaku miskin, kakek nenekku miskin, mungkin buyutku juga. Kenyataan ini membuat aku sentimentil dengan orang kaya. Aku benci mereka yang suka menceramahi kami untuk sabar. Sabar? Kalau kami tidak sabar mungkin kami sudah mati terjun ke sungai. Mereka dengan mudahnya berkata seolah mereka lebih kuat dari kami, padahal itu hanya skenario mereka karena mer...

CERMIN

Ini sudah rokok ketiga yang aku hisap. Kumainkan asapnya membentuk bulatan kecil untuk memecah malam ini. Peluh seharian bekerja rasanya terbayar dengan menghisapnya. Bukan karena aku bodoh dan tidak tahu bahaya merokok. Tapi.. ini karena aku gagal menemukan hal lain yang mampu mengembalikan keceriaanku. Yah, tidak ada lagi. Bahkan istriku sendiri. Dia sudah berubah. Tidak lagi seperti dulu. Ah, perasaan ini kembali beradu padanya. Konflik batin ini kembali mencuat dan hanya menjadi emosi yang terpendam. Mataku memandang nanar langit malam. Hitam dan hening. Ingatanku pun kembali merekam masa lalu. Masa dimana hari – hariku penuh gairah dan kebahagiaan. Tuhan…  izinkan aku mengulang satu episode saja masa lalu itu. Klik! Bunyi pesan dari whatsapp mengusik lamunanku. Itu dari teman kantorku, Rayan. Seperti  biasa, dia selalu mengingatkanku agar tidak datang terlambat meeting besok. Namun yang menarik perhatianku justru bukan isi pesan itu. Bola mataku lari ke foto profile...