JANJI IDRIS


            Aku dan Abu lebih banyak diam, sementara Pak Amin, guru pendamping kami sejak tadi hilir mudik ke meja panitia. Hati kami sudah berkarat terlalu panas meredam perasaan cemas dan gugup. Bukan karena kami tidak siap tampil dan kurang persiapan diajang perlombaan rebana yang diselenggarakan pemerintah kabupaten ini. Alasan kami satu – satunya adalah Idris. Idris belum juga datang padahal perlombaan sudah berlangsung 2 jam yang lalu.
            Aku dan Abu sudah siap tampil diatas panggung. Dengan pakaian yang kami design hijau dan tanda nomor 26 yang sudah terpasang di dada kiri kami yang menunjukan nomor urut tampil. Masalahnya sekarang, peserta sudah memasuki nomor urut 23, artinya setelah 2 peserta lain tampil kami lah selanjutnya. Lalu dimana Idris sekarang?
            “Sekarang bagaimana?” Tanyaku pada Abu.
            “Entahlah aku sendiri bingung. Aku tidak akan pernah memaafkan Idris kalau dia benar – benar tidak datang.” Geram Abu.
            “Tamatlah riwayat kita sekarang!” Tambahku penuh kecewa.
            “Dialah satu – satunya orang yang tidak konsisten terhadap janji. Atau dia sengaja melakukannya?” Ujar Abu semakin kesal.
            Tidak lama setelah itu Pak Amin muncul. Nafasnya masih naik turun karena lelah. Keringatnya tampak mengucur di wajah dan melembabkan peci hitamnya. Sementara ekpresinya jelas menyiratkan keresahan.
            “Bagaimana Pak?” Aku dan Abu kompak bertanya.
            “Panitia tetap saja tidak memperbolehkan kita mengganti nomor urut tampil atau menukar nomornya dengan peserta lain. Katanya semua sudah terdaftar dan ada ketentuannya. Maka, kalau tiba saatnya kita dipanggil dan Idrus belum datang kita akan didiskualifikasi dari perlombaan.” Tutur Pak Amin.
            “Ini semua gara – gara Idris, Pak! Sial!” Ketus Abu marah.
            “Kalian tetaplah tenang, mungkin Idris dalam perjalanan. Dibandingkan dengan kita, dia kan rumahnya yang paling jauh. Terus saja berdoa ya?” Pak Amin berusaha menenangkan kami.
            Suara mikrofon panitia kembali terdengar lantang, “Itulah penampilan peserta nomor urut 24, sekarang kami persilahkan peserta dengan nomor urut 25 untuk naik ke atas panggung.”
            “Gawat! Sudah memasuki nomor 25, setelah ini kita, sekarang bagaimana?” Kataku gugup. Namun mereka sama sekali tidak merespon. Pak Amin, orang yang sangat ku kenal sebagai sosok penyabar sekarang terlihat putus asa, mukanya sembab dan penuh rona kecewa. Abu bahkan  melepas nomor urut yang terpasang di dada kirinya. Itu sama saja dia mengakui kekalahannya.
Aku tetap siaga, memonitor semua penjuru mata angin. Berharap Idris akan muncul tiba – tiba. “Ayo Idris datanglah! Kumohon datanglah!” Kataku dalam hati.
15 menit kemudian suara mikrofon kembali terdengar, “Ya, itulah tadi penampilan peserta nomor urut 25. Sekarang saatnya kami panggil peserta dengan nomor urut 26 untuk naik ke atas panggung.”
Aku, Abu, dan Pak Amin saling pandang. Suara mikrofon itu terdengar seperti seruling malaikat yang menghentikan detak jantung kami. Abu sudah berkeluh kesah untuk mengakhirinya semuanya dan ingin pulang. Pak Amin berusaha setegar mungkin dengan tersenyum sekenanya pada kami. Terdengar pula riuh peserta dan panitia yang menanyakan keberadaan kami. Kami betul – betul mirip sindikat yang tersudut ditengah keramaian massa yang hendak menangkap kami.
“Sekali lagi kami panggil peserta dengan nomor urut 26 untuk naik keatas panggung.” Panggil panitia sekali lagi. Abu menutup telinganya rapat – rapat dan Pak Amin berdzikir. Aku sudah terlampau putus asa, semuanya akan berakhir. Rumah Idris terlampau jauh dan Idris tidak memiliki nomor telepon atau apa pun yang bisa dihubungi.
“Peserta dengan nomor urut 26 untuk naik ke atas panggung sekarang. Terimakasih!” Bagai menegakan benang basah. Itulah kami sekarang. Tidak ada harapan lagi Idris akan datang. Hanya rasa malu yang akan kami bawa kemudian.
“Berdasarkan keputusan dewan juri dan panitia. Kepada peserta yang sudah kami panggil 3 kali berturut – turut namun belum juga muncul untuk tampil diatas panggung, maka kami anggap gugur. Dengan begitu peserta nomor urut 26 terpaksa kami DISKUALIFIKASI.”
Pak Amin menangis dan memeluk kami. Kami kalah sebelum bertanding. Hilanglah sudah harapan kami untuk membanggakan sekolah. Tak lain itu semua karena Idris. Idris yang tidak menghargai janjinya.
***
Aku dan Abu benar – benar dibuat terkejut ketika melihat Idris yang sudah berada di kelas pagi itu. Bisa kurasakan gejolak amarah dan urat – urat Abu yang bersitegang begitu melihat Idris. Dia bahkan menyisingkan lengan kemejanya dan bersiap – siap untuk melampiaskan kemarahannya itu. Aku pun sama, hanya saja aku sedikit mengontrol emosiku. Maka aku mencoba menahan dan menenangkan hati Abu, “Awas! Amarahmu itu setan. Tetaplah tenang!” Aku berbisik pada Abu. Dan Idris hanya memandang kami lurus dengan sorot mata yang layu.
Setelah kami duduk, Idris mendekat. “Muh, Abu, Kalian boleh menghukumku atas kejadian kemarin.” Ujar Idris tertunduk lesu.
“Dengan mudah nya kamu bilang seperti itu, seakan akan itu bisa menyelesaikan masalah. Hukuman apa pun tidak akan membuat kesalahanmu itu terhapus. Ngerti kamu?” Gertak Abu penuh emosi. Aku memberi isyarat mata agar Abu bisa lebih tenang, tapi rupanya Abu tidak menggubris sama sekali.
“Apa yang membuatmu tidak datang kemarin, Dris? Kau tahu kan kalau itu hari dimana kita akan mengikuti perlombaan. Kau tahu, bagaimana perasaan aku, Abu, dan Pak Amin pada saat itu?” Kataku.
“Maafkan Aku, Muh. Aku menyesal sekali. Alasan kemarin itu....”
“Alasan, alasan, dan alasan. Aku tidak mau mendengar itu.” Abu memotong ucapan Idris.
“Jadi kalian betul – betul sulit memaafkan kesalahanku atas kejadian kemarin. Bahkan kalau aku berlutut sekali pun?” Ungkap Idris.
“Sudahlah, kita bicarakan panjang lebar pun tak akan ada hasilnya. Nasi sudah menjadi bubur. Sekarang begini saja, jadikan ini pelajaran untuk kita terutama Idris agar lebih menghargai janji.” Kataku berusaha untuk menghentikan pertikaian lebih lanjut lagi. Tiba – tiba saja Abu mencubit tanganku, aku bisa baca isyarat yang diberikan olehnya. Benar saja, Abu segera menarik tanganku dan membisikan sesuatu.
“Bagaimana kalau kita kerjai dia, tak lain biar dia jera dan tidak mengulangi kesalahannya.” Bisiknya. Aku sedikit terkejut dengan ucapannya barusan. Kulirik Idris, dia masih tertunduk lesu tanpa mencurigai kami sekali pun.
“Kerjai bagaimana?” Kataku pelan.
“Serahkan saja padaku.” Singkat Abu mantap seraya mengedipkan mata dan tersenyum penuh tak – tik.
“Idris? Benar kata Muh, tak akan ada gunanya kita panjang lebar membahas peristiwa kemarin. Sekarang begini saja, hari ini kita kumpul di jembatan persimpangan jam 3 sore untuk menemui Pak Amin. Kau perlu bertemu dengannya langsung karena hari ini beliau tidak ke sekolah.” Ucap Abu pada Idris.
Rumah Pak Amin? Apa maksud perkataan Abu itu. Bukankah tadi malam kita menemuinya?
“Kau benar, Abu. Terimakasih. Aku pasti datang karena aku pun ingin sekali minta maaf pada beliau.” Seru Idris senang.
***
30 menit sebelum tiba pukul 3 sore Abu sudah berada di rumahku. Dia bermaksud mengajakku pergi bersama ke jembatan persimpangan itu. Aku sudah mencium firasat aneh dari apa yang direncanakan olehnya. Tapi dia selalu mengelak dan bilang ‘tidak ada rencana’.
Sekitar 15 menit kami berjalan dan sekarang sudah semakin dekat ke tempat itu. Hanya saja Abu sudah memintaku berhenti.
“Ada apa? Kenapa berhenti? Sebentar lagi kita sampai kan? Jembatannya 30 meter lagi.” Tanyaku.
“Biar kita tunggu Idris disini saja.” Jawab Abu singkat.
“Loh, bukankah kau sendiri yang menjanjikan kita berkumpul di jembatan persimpangan itu?” Seruku.
“Sudahlah Muh, kau ikuti saja apa saranku. Lagi pula apa kau sudah lihat Idris disana. Belum kan? Kita tunggu saja disini! Dari sini kita kan bisa memantau dengan jelas jembatan itu.” Kupikir ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Abu. Akhirnya kami pun memilih berteduh dibawah pohon randu untuk menunggu kedatangan Idris.
Selang kemudian Idris tiba. Kulihat dari kejauhan dia berlari tadi. Mungkin mencoba untuk datang tepat waktu. Aku melirik ke arah Abu, “Ayo kita pergi, Idris sudah datang!”
“Siapa bilang kita kesana. Kita tetap disini saja. Kita kerjai dia supaya merasakan bagaimana sakitnya menunggu sebuah janji.”
“Maksudnya? Oh, jadi ini rencana yang kau bilang kemarin?” Abu tersenyum simpul padaku. Aku menelan ludah. Aku bahkan bingung apa yang harus aku lakukan. Idris dan Abu, dua – duanya sahabatku. Kalau aku bersikeras menemui Idris, Abu pasti marah dan akan membenciku. Aku tidak ingin itu terjadi. Tapi kalau kubiarkan Idris disana untuk menunggu. Itu membuatku iba terhadapnya. Posisiku benar – benar terjepit. Hanya saja setelah kupikir kembali, kemungkinan kecil Idris akan marah dan membenciku karena Idris itu lebih pendiam dan pemaaf ketimbang Abu. Yah, mungkin lebih baik aku ikuti perkataan Abu.
            1 jam berlalu dan Idris masih setia menunggu. Begitu pun aku dan Abu yang masih mengamatinya seperti seekor predator. Abu tampak senang bahkan tertawa melihat Idris disana. Bagiku itu sama sekali tidak lucu.
            Tanpa kami duga sebelumnya tiba – tiba langit membias gelap. Mendung. Angin kencang berhembus dengan hawa dingin membuat daun – daun randu berguguran diatas kepala aku dan Abu. Sekarang, hujan turun cukup deras.
            “Abu kita hentikan saja, hujannya deras. Ini diluar rencana kan?” Seruku.
            “Kau ini panik sekali, Muh. Kita kan aman disini. Beruntunglah kita berteduh dibawah pohon randu.” Jawabnya dengan tenang.
            “Lalu bagaimana dengan Idris disana? Aku kasihan melihatnya.”
            “Kau terlalu berlebihan Muh. Itu belum seberapa ketimbang kita yang harus menanggung rasa malu dan menunggunya berjam – jam.”
            Dan lagi – lagi aku tak bisa menghalangi Abu. Dia orang yang keras kepala. Sangat sulit untuk membujuknya. Ditengah hujan itu, Idris masih menunggu. Entah apa yang ada didalam pikirannya sekarang. Apakah dia sengaja hendak menebus rasa bersalahnya itu? Yang jelas bagiku itu sudah berlebihan. I jam kemudian hujan mulai reda walaupun langit masih tampak mendung. Abu kemudian memaksaku. Kali ini dia memaksa untuk meninggalkan Idris tanpa mempedulikan kecemasan ku terhadapnya. Tanpa ada rasa iba secuil pun seperti ku.
***
            “Kemana kalian kemarin? Aku menunggu di jembatan persimpangan sampai menjelang magrib. Bukankah kita akan menemui Pak Amin?” Pekik Idris, mengagetkan aku dan Abu yang kala itu tengah mengobrol di dalam kelas.
            “Kemarin? Jembatan persimpangan? Pak Amin? Oh Tuhan! Aku lupa soal itu. Benar – benar lupa, maaf ya Idris.” Seru Abu bohong.
            “Kau lupa Abu? Dan kau Muh, kenapa tidak datang?” Tanya Idris kemudian padaku.
            “Aku! A... a ... a .... ku ... juga lupa, Dris. Maaf ya?” Mulutku berbohong juga.
            “Jadi kalian lupa rupanya?” Ucap Idris tertunduk lesu. Aku sangat kasihan melihatnya. Tapi aku pun tidak bisa berkata jujur kalau aku dan Abu bersekongkol mengerjainya kemarin.
            “Kau kenapa, Dris?” Tanyaku.
            “Karena hujan kemarin kepalaku jadi sedikit pusing, Muh.” Jawabnya. Itu membuatku semakin terpojok. Aku dan Abu lah yang salah. Maafkan kami Idris!
            “Bagaimana kalau minggu besok saja kita menemui Pak Amin, Dris. Kita berkumpul di jembatan persimpangan jam 3 sore.” Abu berkata kemudian. Aku mendelik dan terkejut. Kali ini apa rencananya?
            “Baiklah besok aku bisa.”
***
            Persis seperti kemarin, Abu datang ke rumahku dan pergi bersama ke jembatan persimpangan itu. Dia kemudian menyuruhku berteduh lagi di pohon randu untuk menunggu kedatangan Idris.
            “Kenapa tidak langsung saja kita kesana, kau tidak sedang mengerjai Idris untuk kedua kalinya kan?”
            “Tidak lah Muh. Kali ini aku serius.” Sepertinya dia memang serius. Kami pun kembali menunggunya di pohon randu itu. Untunglah kulihat langit cerah membiru. Tak ada tanda akan turun hujan. Berarti semua akan berjalan sesuai rencana.
            “Itu dia orangnya!” Seru Abu memecah lamunanku.
            “Kau benar, lekas kita menemuinya. Mungkin dia mencari kita. Cepat Abu!” Tanpa pikir panjang aku pun menarik tangan Abu dan cepat berlari menghampiri Idris.
            “Idris.....!!” Teriakku memanggilnya. Rupanya dia tidak mendengar. Dia terlihat bingung dan mirip seperti anak hilang yang tidak tahu jalan pulang. Aku dan Abu terus berlari dan kemudian Idris melihat kami. Hanya saja dia malah berlari dan berusaha menghindari kami. Kontan aku dan Abu terperangah kaget melihatnya aneh seperti itu.
            “Kenapa dia, Abu? Itu benar Idris kan?” Tanyaku.
            “Bukan Idris kalau tidak membuat ulah. Lebih baik kita kejar dia dan cari tahu!”. Sejurus, aku dan Abu berlari mengejarnya. Namun Idris berlari lebih kencang dari biasanya. Pandangannya lurus tanpa menengok kearah kami yang sempoyongan mengejarnya. Beberapa saat setelah itu, barulah kami tahu kalau Idris berlari menuju rumahnya. Apa yang sebenarnya hendak dia tunjukan pada kami? Aku dan Abu masih bertanya – tanya satu sama lain. Idris kemudian masuk menuju rumahnya tanpa mempedulikan kami yang hanya beberapa meter dibelakangnya. Tanpa pikir panjang kami nekat masuk kedalam rumah Idris.
            “Idris.... “ Aku memanggilnya. Tak ada jawaban sama sekali. Rumahnya sepi dan gelap. Baru beberapa lama setelah itu aku dan Abu mendengar suara yang berada di kamar yang letaknya ada di ujung. Kami bergegas ke ruangan itu.
            Aku mendengar suara didalam kamar itu. Suara Yasin yang terdengar khusyuk. Aku dan Abu sempat bergetar. Sesuatu terjadi di rumah ini. Dan tiba – tiba seorang bapak berjanggut menyadari dan menghampiri kami yang tengah berdiri di pintu ruangan itu.
            “Kalian siapa?’ Tanyanya dengan suara yang parau.
            “Aku Muh dan ini Abu. Kami teman Idris. Apa yang terjadi Pak? Sebetulnya tadi kami mencari Idris.” Kataku. Sejenak Bapak itu terdiam kemudian kembali berujar.
            “Sepertinya kalian sahabat karib Idris. Idris sering menceritakan kalian. Kalian datang disaat Idrus baru saja menghembuskan nafas terakhirnya.” Bapak itu berujar dengan air matanya turun dari wajahnya yang tirus.
            Apa? Idris meninggal?
            Pernyataan itu seperti sebongkah batu yang meremukan tulang rusukku. Aku terjatuh lemas tak berdaya. Hal serupa juga dirasakan oleh Abu. Aku tidak mempercayainya. Bapak itu pasti bergurau. Sekarang perasaan dan pikiran melebur tak karuan. Aku dan Abu menangis seketika itu juga. Kami belum yakin kalau Idris sahabatku telah pergi. Namun di balik selendang batik itu kami benar – benar melihat seorang pria muda yang memang ku kenal, dia Idris. Dia tampak pucat dan tersenyum getir dalam raganya yang rapuh.
            Bapak berjanggut itu rupanya ayah Idris. Dia kemudian menenangkan kami untuk mengikhlaskan kepergian Idris agar dia tentram berada disana. Pelan – pelan aku berusaha mengontrol emosiku.
            “Idris itu anak yang baik namun sedikit nakal karena susah diatur. Semula bapak sudah curiga kalau ada yang tidak beres dengan kesehatannya. Akhir – akhir ini dia sering mengigau tengah malam. Tapi dia selalu mengelak kalau dia baik. Kamis yang lalu dia ditemukan pingsan oleh warga di jalan saat dia hendak mengikuti perlombaan. Padahal dia sudah mempersiapkan hari itu dengan matang. Kemarin, dia main entah kemana sampai kehujanan. Dia demam tinggi dan bapak memaksa dia ke dokter. Bapak tahu, Idris menolak untuk ke dokter karena biayanya yang sangat mahal”.
            “Lalu apa yang dikatakan dokter itu?” Tanya Abu.
            “Idris terserang DBD akut.” Kami berdua tertegun mendengarnya.
            Ada sebongkah penyesalan dalam hatiku. Idris, sahabatku terserang DBD akut.  Kenapa aku tidak peka dan sama sekali tidak menyadari itu. Kenapa aku selalu mementingkan diri sendiri?
            “Tapi kami tadi melihat Idris, Pak. Persis sebelum kami kesini. Kami melihatnya di jalan persimpangan karena kami punya janji jam 3 hendak menemui Pak Amin.” Abu tiba – tiba berkata.
            “Idris tidak pergi kemana – mana hari ini. Sejak malam tadi dia hanya berbaring di kamarnya. “ Ujar Bapak itu.
            “Lantas yang kami lihat itu.... “ Kataku setengah tidak percaya.
            “Bapak tidak bisa berkata apa – apa. Mungkin itu yang menahan Idris pergi, setelah dia memenuhi janjinya. Dia kemudian bisa pergi dengan tenang. Idris adalah orang yang sangat menghargai janjinya.” Setelah itu aku dan Abu tidak berkata – kata lagi.
            Idris maafkan aku dan Abu. Kami akan menarik ucapan kami. Kaulah orang terbaik yang betul – betul menghargai janji. Bahkan disaat – saat terakhir pun kau berusaha menepati janjimu. Tenanglah disana, sahabatku – Idris.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman CPNS Dosen 2024: Titik Akhir, Awal Baru

Pengalaman Kuliah S2 di Inggris

PENGALAMAN DAN TIPS UNTUK IELTS