WENING


Gelar masih setengah percaya dengan isu yang beredar di kampung halamannya itu. Kepulangannya ke Indramayu setelah hampir 4 tahun bekerja di Riau justru membuat batinnya tak karuan karena isu itu.
            “Itu isu busuk! Aku tak percaya sama sekali. Takhayul!” Sungut Gelar pada ibunya. Sang ibu hanya terkekeh dengan respon Gelar yang menurutnya masih kekanakkan.
            “Kamu boleh percaya atau tidak, tapi sudah banyak buktinya. Ibu bukan sekedar menasehati, tapi melarang keras kamu berhubungan sama Wening.” Ucap ibu pada anak semata wayangnya itu.
            Pikiran Gelar masih berkecamuk. Dia menantikan ibunya akan mengatakan kalau semua ucapannya itu bohong, hanya trik sang ibu untuk bercanda dengannya. Namun tidak ada sama sekali ekspresi yang Gelar tangkap kalau ibunya sedang berbohong.
            “Masih banyak perempuan lain yang mau sama kamu toh Gelar, bukan cuma Wening yang cantik disini.” Tukas ibu seraya menuangkan teh hangat ke gelas mug besar.
            “Aku menyukai Wening bukan karena kecantikannya bu, tapi karena pribadinya yang membuat dia berbeda dengan perempuan lain.” Gelar membela diri.
            “Ibu tidak melihat pribadi yang istimewa pada Wening, justru ibu takut karena dia sangat tertutup. Ibu juga masih belum yakin dengan kebenaran isu itu, tapi apa salahnya kamu belajar dari kesalahan orang kan?”
            “Maksud ibu, mencintai Wening adalah kesalahan?” Kata Gelar sedikit membentak. Ibunya terdiam, sepertinya tidak ingin memperpanjang masalah soal Wening. Gelar masih membatin.
“Aku mau ke kamar.” Seru Gelar datar dan kemudian meninggalkan ibunya.
***
Gelar mengaduk – aduk isi lacinya. Sorot matanya serius, bola matanya bergerak kekanan dan kiri untuk mencari benda yang menurutnya sangat berharga itu. Akhirnya dia pun menemukan apa yang dia cari. Album foto. Lembar demi lembar dia perhatikan dengan baik foto didalam album itu. Tentu yang banyak dilihatnya adalah foto Wening. Foto Wening bersamanya pun ada di album itu, juga foto Wening yang sedang menari didalam pertunjukan.
“Apa Wening masih menari sampai sekarang ya?” Gumamnya.
Tidak berselang lama, ibunya masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu. Gelar cukup terkejut dan segera menyembunyikan tangan kanannya yang memegang foto Wening ke belakang.
“Firman datang mencarimu, cepat temui dia di depan.” Seru ibu.
“Oh iya!”
Selepas ibunya pergi, Gelar segera menutup dan mengunci kamarnya kemudian menemui Firman, salah satu orang yang ingin ditemuinya selama di Riau.
Gelar tampak senang begitu melihat Firman, dia langsung memeluk teman karibnya di Indramayu itu.
“Kapan datang?” Tanya Firman.
“Kemarin, bagaimana kabar kamu?” Gelar tanya balik.
“Alhamdulillah, sehat. Kamu tambah ganteng saja sepulang dari Riau.”
“Bisa saja kamu.”
“Itu foto siapa?”
Gelar baru sadar kalau foto Wening masih di pegangnya. Dia pun tidak bisa menyembunyikan foto itu lagi karena Firman sudah melihatnya.
“Ini foto orang yang kucintai, Wening!”
Firman begitu terperanjat. Wajahnya jelas terlihat pucat mendadak. Dia memelankan suaranya, “Tinggalkan dia segera, ini untuk kebaikanmu Gelar!”
Kalimat itu jelas pukulan bagi Gelar, tidak mungkin semudah itu dia meninggalkan orang yang selama ini dia nanti – nantikan.
“Kau gila! Ada apa denganmu! Kau tahu kan betapa aku mencintai Wening. Kami sepasang kekasih, bahkan aku ingin melamarnya.” Ujar Gelar dengan serius.
“Lupakan Wening! Kubur dalam – dalam kenangan kamu dan dia. Mulai lagi hidupmu dari awal tanpa Wening.”
Gelar mematung, mulutnya seakan terkunci rapat.
Firman bicara lagi, “Jangan pernah lagi kamu bilang akan melamarya, itu terdengar sangat menakutkan bagiku. Kamu sudah mendengar isu itu?”
“Ibu sudah menceritakannya.”
“Lantas?”
“Aku tidak percaya, itu takhayul!”
“Ini bukan takhayul! Agung, Bayu, dan Rian adalah buktinya. Mereka jatuh sakit setelah mencoba melamar Wening. Menurutmu ini tidak aneh?”
“Mungkin mereka depresi karena Wening menolaknya.” Ujar Gelar datar.
“Bukan karena itu, tapi banyak orang bilang karena roh yang selama ini masuk ke tubuh Wening saat dia menari!”
Mata Gelar terbelalak mendengar penjelasan dari Firman. Menurutnya itu sangat konyol. Tapi dia pun tidak bisa berbohong kalau ada rasa takut membayanginya.
“Kamu pernah mendengar kan kalau saat Wening menari, ada dorongan magis dalam pertunjukannya?”
Gelar mengangguk pelan. Tarian sintren, yang merupakan warisan budaya dari pesisir utara pantai Jawa Barat dan Jawa Tengah itu memang dikenal sebagai tarian dengan aroma mistis. Tapi apa itu ada hubungannya? Gelar bertanya – tanya dalam hati.
“Wening itu penari sintren profesional. Darahnya sudah menyatu dengan tarian itu. Asal kamu tahu, sebagai penari sintren, ada syarat yang harus dilakukannya.”
“Syarat? Apa itu?”
“Dia harus tetap perawan! Mungkin itu alasan kenapa orang yang nekat melamar Wening akan jatuh sakit bahkan bisa jadi akan meninggal. Hal tersebut mengganggu keyakinan dan pengabdiannya sebagai penari sintren.”
Gelar tidak bisa menelan ludahnya, kerongkongannya seperti di penuhi duri duri tajam. Itu kenyataan yang sulit sekali diterima baginya.
“Firman, aku ingin menemui Wening. Segera!” Bisik Gelar, sorot matany kacau.
“Untuk apa kamu menemui dia lagi?” Rutuk Firman.
“Ada hal penting yang ingin aku tanyakan.”
“Datanglah besok ke kediaman Pak Surya, Wening akan menari disana. Ingat, katakan secara tegas bahwa kamu tidak akan lagi menemuinya. Ini untuk kebaikanmu!”
Gelar kembali membisu.
***
 “Tambak tambak pawon. Isie dandang kukusan. Ari kebul kebul wong nontone pada kumpul.” Mantra ini terus dibacakan juru kawih untuk memanggil penonton dan tidak akan berhenti sampai penonton kumpul. Suara tabuhan gendang pun turut menyertai sebagai pertanda akan dimulainya pertunjukan tarian sintren.
Gelar dan Firman terlihat sudah duduk dibarisan belakang untuk menonton tarian sintren itu. Ada perasaan cemas dan khawatir saat Gelar berada disana, terlebih dengan aroma kemenyan yang menyengat hidung.
Hati Gelar semakin berdebar saat Wening muncul. Pawang memegang tangan Wening dan diletakan diatas asap kemenyan dengan mantra khusus kemudian mengikatnya dengan tali. Lalu Wening pun dimasukkan ke dalam kurungan ayam beserta busana sintren dan perlengkapan merias wajah. Ketika proses pergantian pakaian, dupa akan terus mengepul sebagai pertanda dorongan magis yaitu roh yang dipanggil dalam pertunjukannya. Ketika terdapat tanda – tanda bahwa pergantian baju selesai, maka kurungan pun dibuka dan Wening mulai menari dengan busana dan paras yang cantik. Selama pertunjukan sintren itu berlangsung pembakaran kemenyan pun tidak boleh berhenti.
“Kapan pertunjukan ini selesai?” Bisik Gelar ke Firman.
“Sebentar lagi, setelah ini akan ada balangan.”
Gelar hanya ber-oh dan kembali fokus pada tarian Wening. Dia menari dengan sangat anggun. Meskipun Wening menari dengan memakai kacamata hitam tapi Gelar masih melihat pesona di wajahnya.
Akhirnya tari sintren pun selesai, pertunjukan itu ditutup dengan temohan, yaitu upaya penari sintren yang mendekati penonton dengan membawa nampan untuk meminta tanda terimakasih berupa uang ala kadarnya. Satu persatu penonton pulang setelah memberikan uang ke Wening.
“Kau siap menemuinya kan?” Seru Firman. Gelar tersenyum datar. Dengan langkah yang berat Gelar menemui Wening. Mungkin ini pertemuan yang sulit baginya. Dan akan sulit menemukan kata – kata untuk mengobrol dengan Wening. Tapi karena dorongan dari temannya, Firman. Gelar mencoba memberanikan diri untuk maju.
Wening terlihat sedang duduk santai dan mengobrol bersama pawang yang memanggil roh tadi di pertunjukkan.
“Wening!” Sapa Gelar ragu.
Wening tampak terkejut, itu terlihat dari ekspresinya dan matanya berkaca – kaca. “Mas Gelar!” Pekik Wening. Siapa sangka, Wening langsung memeluk Gelar dengan erat. Itu membuat Gelar salah tingkah.
“Kapan pulang? Sejak kapan mas Gelar berada disini, aku sangat rindu!”
“Aku... Aku... “ Gelar tampak terbata – bata. Pelan – pelan dia melepas pelukan Wening.
“Mas sedang tidak sehat?” Selidik Wening.
“Gelar tidak sakit, ada hal yang harus dia sampaikan.” Firman tiba – tiba bicara. Itu membuat Wening curiga.
“Bisa tinggalkan kami berdua?” Pinta Wening ke Firman. Firman pun menggangguk dan mengambil jarak untuk membiarkan Wening dan Gelar menyelesaikan masalahnya.
“Apa yang terjadi Mas? Kenapa mas berubah sekarang?” Wening kembali bertanya.
“Aku tidak pernah berubah Wening, sedikit pun tidak. Tapi kamu lah yang berubah.” Rutuk Gelar.
“Aku tidak mengerti.” Ujar Wening spontan.
“Aku lah yang harusnya berkata seperti itu, aku tidak mengerti sama sekali soal isu yang ramai diperbincangkan itu? Apa yang sebenarnya terjadi!” Gelar sedikit menggertak.
“Isu?” Wening tercengang. Dia menundukan kepalanya.
“Maafkan aku Wening, tapi itu membuat perasaanku berubah.” Gelar berkata lagi.
Wening mencoba mengusap air matanya yang menggenang di pelupuk matanya. “Apakah Firman yang menceritakan semuanya?”
“Ini bukan soal siapa yang menceritakan? Tapi kebenaran isu itu? Ada apa dengan mu Wening? Apakah tarian sintren yang membuatmu seperti ini? Kalau memang iya, tinggalkan tarian itu!” Sungut Gelar kali ini suaranya lebih keras.
“Apa maksud mas Gelar tadi? Jangan pernah menyalahkan tarian sintren atas semua yang terjadi, aku tidak suka!” Wening tidak kalah kerasnya.
“Tidak salah semua orang membicarakanmu!”
“Kenapa mas Gelar begitu peduli dengan apa yang orang – orang bicarakan?”
“Bukan hanya mereka, bahkan ibuku sendiri Wening! Ibuku menyuruhku untuk meninggalkanmu?”
“Mas lupa dengan janji kita dulu? Janji untuk melamar Wening sepulang dari Riau!”
Gelar kehabisan kata – kata. Kemudian dia bicara lagi, “Aku rasa kita akhiri saja semuanya. Dan lupakan janji bahwa aku akan melamarmu. Maafkan aku, Wening!” Lantas dia segera meninggalkan Wening yang tampak menangis.
***
“Keputusanmu itu sudah tepat Gelar.” Ibu menghibur Gelar yang sejak pagi tadi hanya melipat mukanya.
“Jodoh sudah ada yang mengatur, tidak usah kamu berpikir kalau Wening itu satu – satunya perempuan yang akan kau nikahi. Mungkin dia bukan jodohmu.” Ibu kembali bicara. Namun Gelar sama sekali tidak merespon.
“Mau ibu kenalkan sama Nina? Dia putri pak Abdul teman ibu.”
Kali ini Gelar mendelik, “Sepertinya aku akan ke Riau lagi. Ada proyek baru disana.” Ibu tersenyum simpul, itu jawaban yang sama sekali tidak dia harapkan.
“Jaga dirimu baik – baik ya?” Ucap ibu.
Gelar kembali ke rokoknya, sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Pikirannya kosong dan sulit diuraikan. Nafsu makannya hilang dan menjadi sangat dingin, bahkan terhadap ibunya sendiri.
 ***
            Masih pagi. Kira kira pukul 06.00. Rumah Gelar sudah ada yang mengetuk pintu cukup keras berulang kali. Dengan langkah gontai dan setengah mengantuk Gelar membukakan pintu itu.
            “Firman?” Pekik Gelar.
            “Gelar ada berita penting!”
            “Soal apa?”
            “Wening!”
            Alis mata Gelar mengernyit dan di otaknya penuh tanda tanya besar. Menebak – nebak apa yang hendak Firman katakan.
            “Tadi malam, ada orang yang melamar Wening.” Ujar Firman serius.
            “Lantas apa yang terjadi denga pria itu? Dia sakit?” Kata Gelar penasaran.
            “Bukan!”
            “Maksud kamu? Tolong katakan dengan jelas.”
            “Wening menerima lamaran itu.”
            Gelar terkejut setengah mati. Dia mencoba mengatur nafas nya yang mulai tak tentu. Tatapan matanya kosong.
            “Gelar, ini memang sulit dipercaya.” Ucap Firman.
            “Kamu hampir membunuhku, Firman. Aku harus menemui Wening.”
            Tanpa pikir panjang lagi kemudian Gelar mengayunkan kaki nya untuk berlari ke rumah Wening. “Aku harus minta penjelasan! Penjelasan dari semuanya!” Katanya dalam hati. Namun tanpa sengaja Gelar justru berpapasan dengan orang yang sangat ingin ditemuinya itu di jalan. Keduanya sama – sama terkejut.
            “Aku baru akan menemui mas Gelar.” Kata Wening dingin.
            “Wening, ada yang ingin aku bicarakan.” Tukas Gelar tanpa basa basi lagi.
            “Soal apa?”
            “Lamaran yang baru saja kamu terima.”
            Wening tersenyum tapi matanya berkaca – kaca. Gelar tidak bisa mengontrol perasaannya yang sedang berperang dengan emosi.
            “Jelaskan padaku!” Bentak Gelar.
            “Kenapa kamu begitu bodoh mas!”
            Gelar tercenung dengan perkataan Wening. Dia menunggu kalimat yang akan dikatakan Wening selanjutnya.
            “Ambil ini! Semuanya akan jelas setelah mas Gelar membaca ini.” Wening menyerahkan sepucuk surat. Gelar tertegun, Wening berhasil membuat otaknya tidak berfungsi lagi. Kemudian Wening pergi, meninggalkan seribu pertanyaan yang belum dia jawab.
***
            Di dalam kamarnya Gelar membaca kata demi kata isi surat yang ditulis oleh Wening. Air matanya jatuh dan membuat surat itu basah.
            Aku begitu terpuruk dan kecewa dengan apa yang mas Gelar katakan untuk mengakhiri hubungan kita. Padahal, aku selalu punya impian untuk bisa membangun sebuah hubungan yang serius dengan mas Gelar. Menurutku, aku sudah berusaha untuk setia dan sabar menanti kepulangan mas Gelar dari Riau selama 4 tahun lebih. Aku dulu merelakan mas Gelar pergi meskipun setap waktu aku selalu dihujani dengan perasaan rindu pada mas Gelar, tapi yang menguatkanku adalah kekuatan cinta yang besar. Kita sama – sama saling mencintai, dan aku ingat betul janji mas Gelar kepadaku. Mas Gelar akan melamarku setelah proyek di Riau selesai.
            Tapi mas Gelar yang sekarang bukanlah orang yang dulu aku kenal, mas kenapa sekarang jauh lebih percaya omongan orang dari pada Wening, orang yang sangat mencintai mas Gelar? Isu yang selama ini banyak diomongkan tidak benar. Mereka sengaja mengfitnahku. Tiga orang pria yang melamarku aku tolak dengan alasan bahwa aku menunggu kepulangan mas Gelar. Mereka merasa dilecehkan dan memfitnahku dengan memanfaatkan profesiku sebagai penari sintren yang berbau magis bahwa aku adalah perempuan yang harus tetap perawan. Padahal itu semua bohong. Kesucianku hanya akan kuberikan untuk mas Gelar seorang.
            Sepertinya skenario Tuhan tidak seperti yang aku bayangkan. Semalam, seorang pria baik melamarku. Aku menerimanya dengan sepenuh hati. Karena memang aku sudah tidak punya alasan lagi untuk menolaknya. Sekarang aku akan belajar mencintai calon suamiku. Terimakasih untuk semuanya! Untuk waktu yang pernah mas Gelar buang untukku.
Wening
Mas Gelar mengutuk dirinya sendiri. Kenapa dia begitu gegabah dan terburu – buru dalam mengambil keputusan? Itu menjadi kesalahan yang seumur hidup tidak akan bisa dia maafkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman CPNS Dosen 2024: Titik Akhir, Awal Baru

Pengalaman Kuliah S2 di Inggris

PENGALAMAN DAN TIPS UNTUK IELTS